TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini
TIMES Cerpen

Dibalik Buku Kecil

22/01/2018 - 12:22 | Views: 22.63k
Desain Grafis: Ofic/TIMES Indonesia

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Hanya kebosanan yang kurasakan dalam libur sekolahku kali ini. Setelah semua santri pulang ke rumah masing-masing pada akhir tahun, aku pun tak pergi kemana dan hanya berdiam diri bersama keluarga dirumah.

Mungkin saja semua teman-temanku memanfaatkan libur panjang kali ini dengan berlibur ke tempat-tempat wisata di daerahnya masing-masing. Tak mengapa.

Di rumah yang menyimpan banyak kenangan kecilku, aku lebih banyak membantu ibu. Meski kadang harus sedikit memaksa tubuhku yang sebenarnya hanya ingin bermalas malasan.

Maklumlah, selama aku menimba ilmu di pondok, kakak ku pun kuliah di Jakarta. Jadi, selama ini ibu hanya seorang diri mengurus rumah.

“Nin, bantu ibu bersih-bersih gudang ya nak ?!,” terdengar suara ibu memintaku segera beranjak.

“Nanti ibu menyusul !,” teriaknya.

“Iya bu,” jawabku, sambil bergegas pergi.

Lama tak masuk gudang, tumpukan kitab dan buku-buku lama milik ayah dan ibu masih tertata rapi meski selimut debu kian menebal. Beberapa memang mulai lapuk dan dimakan rayap.

Ku saput pelan debu-debu agar tak mengotori buku-buku itu sambil sekilas membacanya. Tapi ada yang menarik hatiku untuk membaca sebuah buku kecil kusam berwarna merah jambu berpeta biru.

“Munasifah” tulisan disampul buku yang menyebut nama ibu.

Jelas ini buku pribadi milik ibu. Akupun penasaran ingin segera mengetahui isinya.

Lembar pertama, tertempel potret ibu diusia remaja, bertuliskan “Partner of My Life”.

Wah...ternyata buku itu berisi tentang cerita masa remaja ibuku, masa SMA, sekitar tahun 1994, yang tentu sangat menarik untuk ku ketahui.

Akupun menyelinap ke pojok gudang, tentu agar ibu tak tahu jika aku membaca buku “pribadi” itu.

***

Lembar demi lembar kubaca dengan seksama;

Hari ini adalah pembagian rapot ujian akhir. Alhamdulillah, aku dan Mahmudah, sahabatku, meraih peringkat pertama. Kami tidak duduk di kelas yang sama. Aku di kelas A, sedang dia di kelas B.

Usai pembagian rapot, kita bergegas ke kantin sekolah. Saat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.

“Sifah!, Sifah!,” 

“Hih, sudah kukira pasti dia!,” ucapku dalam hati, menahan jengkel.

Saimudi, anak lurah yang masih tetanggaku juga. Dia selalu saja seperti itu, ngomong dan tingkahnya pun tak jelas. Akupun jarang menghiraukan tegur sapanya.

Dia pun pergi.

Akupun menghampiri Bu Ida, pemilik kantin yang tengah sibuk melayani siswa lain yang sedang berbelanja. 

“berapa bu?,” tanyaku.

“Sudah dibayarin Mudi,” jawabnya, sambil terus melayani pembeli.

“Mungkin Mudi naksir kamu,” celetuk Muhmudah, sambil cengengesan.

“Tidak mungkin!, aku ndak mau!,” ucapku, bersilat lidah.

Sikap dan perhatian anak lurah itu memang aneh. Kuhitung, sudah tiga kali dia membayar makanan yang ku pesan. Bahkan, tanpa sepengetahuanku.

Di kampung pun, sikapnya juga demikian. Sudah menjadi kebiasaannya memukul kentongan sebagai kode agar aku membuka jendela kamar tidurku.

“Teng..teng..teng..”

Tak ku hiraukan.

Sepertinya, tiada kata lelah dan putus asa untuknya. Bahkan, Mudi kerap menyuruh Nurul, anak Bu Dhe ku yang masih kecil untuk mengantar surat berisi ucapan “Good Night” untukku.

“Hah...apa kata dunia?!,” geramku dalam hati.

Tumpukan surat-surat tak berguna darinya kutumpuk di dalam tas kresek besar berwarna merah yang akan segera kubuang.

Hari demi hari, bulan pun berlalu mengisi hari-hariku. Ujian akhir pun turut berlalu.

Saat perpisahan tiba. Mudi tiba-tiba datang menghampiri dan menyapa.

“Mau kuliah dimana?,” tanyanya.

“Insyaallah di Ciputra,” jawabku singkat.

“Aku juga di Ciputra,” timpalnya.

Tiba-tiba Mudi memberiku sesuatu.

***

Hanya sampai disitu aku membaca buku itu. Lembar-lembar lapuk dan usang pada lembar-lembar selanjutnya seakan menghalangi untuk mengetahui cerita selanjutnya tentang kisah dua remaja yang kini menjadi orang tuaku itu.

Aku pun tak dapat menahan senyum membayangkan keduanya ketika masa SMA dulu.

“Greek…”

Tiba-tiba ibu membuka pintu dan menatapku.

“Sedang apa kamu nak?!,” ucapnya, penuh pertanyaan.

“MasyaAllah, dari tadi belum kelar bersih-bersihnya?!,” ucapnya heran.

Aku pun balik bertanya.

“Ibu, memang nya zaman dulu kalau hendak berkirim surat harus menabuh kentongan ya ?,” sindirku.

Ibu tercengang dan tersipu malu.

“Seperi abang Mudi dan Mbak Sifah ?,” gurauku.

Tak kuat menahan tawa, ibu langsung balik badan bergegas pergi. Tawa kecilnya pun terdengar dibalik tembok gudang.

“Tok..tok..tok..” terdengar orang mengetuk pintu depan.

“Assalamualaikum…” 

Rombongan tamu dari Surabaya pun tiba. (*)

*Penulis adalah Binta Mu’awanah, Santri Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Banyuwangi

Jurnalis : Syamsul Arifin
Editor : Yatimul Ainun
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Banyuwangi
Top

search Search