TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Isu Santet Menyeruak di Banyuwangi, Ini yang dilakukan Polisi

20/01/2018 - 21:29 | Views: 11.30k
Bripka Donny Yanuar (tengah) saat menyaksikan penandatanganan surat pernyataan perdamaian (Foto: Istimewa)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Kabar isu santet kembali muncul di Banyuwangi, Jawa Timur. Kabar ini muncul dari dari Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi pada minggu-minggu ini. 

Mendengar kabar tersebut, Kapolsek Rogojampi, Kompol Suharyono melalui Bhabinkamtibmas setempat melakukan tindakan penyelidikan kebenaran kabar itu.

Bhabinkamtibmas Karangbendo, Bripka Donny Yanuar mengatakan, usai mendapatkan intruksi dari Kapolsek, ia melakukan penggalian data dan informasi dengan mengunjungi rumah tertuduh pelaku santet, BDH (43), dan penuduh santet, SH (62).  Keduanya merupakan warga yang tinggal di desa tersebut. 

Penyelidikan dilakukan dengan didampingi Kepala Desa setempat, Budiharto, anggota BPD, Masruto, Kepala Dusun Pancoran, Zaini.

Kabar ini muncul sekitar pertengahan tahun 2017, BDH dituduh telah menyantet, AS, salah satu warga di desa itu. 

Namun, setelah AS meninggal diketahui tetapi kematiannya bukan disebabkan oleh santet, melainkan almarhum dinyatakan menderita penyakit HIV/ AIDS positif. 

Namun dalam hal ini, BDH merasa tidak nyaman dan dirugikan akibat anggapan sebagai dukun santet.

“Kronologinya, saudara SH mengatakan “apa ada yang jual ilmu sihir” dengan nada bercanda kepada tukang sayur namanya SM. Saat itu, tertuduh dukun santet, BDH, sedang menemani istrinya berbelanja kepada SM, dari situlah terjadi adu mulut antar keduanya,” kata Donny menceritakan kronologi kasus ini kepada TIMES Indonesia, Sabtu (20/1/2018).

Untuk mencari kebenaran isu santet, lanjut Donny, dirinya melakukan pemeriksaan terhadap BDH (tertuduh) dan SH (penuduh) di kantor Desa Karangbendo. Namun, setelah dilakukan penggalian informasi ternyata tuduhan itu tidak benar.

“Itu si penuduh, awalnya berniat bercanda tetapi ditanggapi serius oleh BDH yang akhirnya timbul percekokan panjang sampai minggu kemarin. Ternyata, BDH masih mempunyai hubungan keluarga dengan penuduh, SH  yang masih pamannya saudara BDH.

Ini disebabkan karena adanya omongan “apa ada yang jual sihir” yang menyebabkan terjadi kesalah pahaman kedua belah pihak. Padahal waktu itu, pertengahan tahun 2017, niatnya paman dari tertuduh ini hanya bercanda karena BDH yang pendiam dan jarang keluar rumah,” imbuhnya bercerita.

Meskipun begitu, untuk meminimalisir terjadinya gejolak di masyarakat, pihaknya melakukan koordinasi dengan aparat desa beserta tokoh agama setempat untuk meredam isu santet. Donny berpendapat, isu santet ini sangat sensitif karena Banyuwangi memiliki pengalaman yang sangat memilukan di tahun 1999 lalu.

“Alhamdulillah permasalahan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan kedua belah pihak bersedia menanda tangani surat pernyataan perdamaian yang diketahui oleh Kades, tokoh agama, dan saksi-saksi termasuk anak dari penuduh,” paparnya.

Sementara itu, Kapolsek Rogojampi, Kompol Suharyono berpesan kepada jajaran dibawahnya untuk semakin intens melakukan langkah-langkah persuasif dan prefentif untuk mencegah meluasnya kasus-kasus yang kerap terjadi di masyarakat. Kalaupun toh ada permasalahan dirinya mengimbau untuk diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan.

“Kalau anak buah saya, dari pada diam di kantor mending saya suruh keluar dan pulang membawa hasil, misalnya membantu masyarakat yang terlibat masalah atau kesusahan dan dibantu mencarikan solusinya dan dilaporkan,” kata Suharyono. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Banyuwangi
Top

search Search