TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Akhirnya, Nelayan Cantrang di Probolinggo Tak Perlu Jual Perabot untuk Bertahan Hidup

18/01/2018 - 23:05 | Views: 12.87k
ILUSTRASI: Nelayan. (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, PROBOLINGGO – Presiden Joko Widodo (Jokowi), kembali membuka kran penggunaan alat tangkap ikan berupa jaring cantrang. Namun demikian, kebijakan tersebut harus diiringi sejumlah konsekuensi. Diantaranya, dilarang ada penambahan nelayan cantrang.

Nelayan juga harus melengkapi beberapa persyaratan. Diantaranya melengkapi diri dengan surat izin kapal cantrang, dan beberapa dokumen lainnya. Diperkirakan, paling cepat nelayan bisa kembali melaut pada Senin 22 Januari 2018 mendatang.

Kebijakan tersebut, memberikan angin segar pada ratusan nelayan di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Setelah mendapat kepastian itu, nelayan bersuka cita dan mempersiapkan segala macam hal untuk kembali melaut.

Sebelumnya, selama masa pelarangan jaring cantrang, para nelayan ini tidak bisa melaut. Otomatis, penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pun, tidak ada. Guna menyambung hidup, para nelayan ini sampai menjual perabotan yang dimiliki. Mulai dari perabotan rumah tangga, sampai perhiasan istri.

“Mau bagaimana lagi, tidak ada pemasukan selama sebulan. Sementara kebutuhan hidup terus berlanjut. Sekarang baru bisa lega, senang bisa melaut lagi,” kata salah satu nelayan setempat, Zaini (45), Kamis (18/1/2018).

Hal serupa juga diungkap Juari, yang juga nelayan cantrang. Ia mengatakan, selama tidak melaut karena ada pelarangan jaring cantrang, ia hidup serba kekurangan. Menjual perabotan, merupakan opsi terakhir yang bisa dilakukan. Dari pada meminjam ke bank atau ke lembaga keuangan lain yang memerlukan jaminan.

Sebelumnya, para nelayan cantrang di beberapa wilayah tidak bisa melaut. Karena keputusan Menteri Susi Pudjiastuti yang melarang penggunaan jaring cantrang, atau trawl. Lantaran jaring tersebut berkarakter menangkap ikan dasar laut. Selain ikan, jaring tersebut juga merusak ekosistem laut, seperti terumbu karang, dan juga ikan – ikan yang masih berukuran kecil. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Banyuwangi
Top

search Search