TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

RSUD dr M Saleh Alami Kelangkaan Obat, Ini Penyebabnya

04/01/2018 - 13:13 | Views: 5.98k
Keluarga pasien menunggu obat di RSUD dr. Moh Saleh, Kota Probolinggo (FOTO: Happy/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, PROBOLINGGO – Akibat piutang sebesar Rp 22,9 miliar lebih tak terbayar, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Mochammad Saleh Kota Probolinggo Jawa Timur, alami kelangkaan obat. Ini terjadi karena pihak rumah sakit tidak bisa membayar utang pembayaran obat dan membuat sejumlah jenis obat mengalami kelangkaan.

Kelangkaan ini pun dikeluhkan oleh beberapa pihak, baik pasien maupun dokter spesialis.

Ruang tunggu apotek di RSUD Dokter Saleh membludak. Pasien yang hendak menebus obat, harus menunggu lama lantaran terjadi kelangkaan pada sejumlah jenis obat. Seperti paracetamol, obat spesialis saraf, vitamin, serta beberapa jenis obat lainnya.

Akibatnya pasien harus menunggu lama, atau membeli obat dengan resep yang sama di apotek lain. Padahal, harga obat tersebut, lebih mahal dari yang ada di apotek rumah sakit. Selain itu, keterlambatan untuk mendapatkan obat itu juga berdampak pada penanganan pasien. Penanganan bisa lebih lama, lantaran harus mencari obat terlebih dahulu.

“Kami berharap, ada respon cepat dari pihak terkait agar kelangkaan obat ini bisa teratasi. Agar pelayanan di rumah sakit kembali normal, terutama ketersediaan obat,” Kata salah satu pasien, Yuniati Ningsih, Kamis (4/1/2018).

Sementara itu, pihak manajemen rumah sakit membenarkan, terjadinya kelangkaan obat. Kelangkaan terjadi karena piutang rumah sakit sekitar Rp 22,9 miliar belum terbayar. Piutang tersebut, sekitar Rp 21,9 miliar masih berada di badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS). Sementara sisanya, merupakan tagihan ke pihak swasta maupun pasien umum yang belum dibayar ke pihak rumah sakit.

Pelaksana tugas wakil direktur umum dan keuangan RSUD Dokter Saleh, Retno Febby Hariyati menjelaskan, karena piutang yang belum terbayarkan itu, pihaknya memiliki utang sebesar Rp 9 miliar kepada pabrik farmasi. “Utang tersebut, terhitung sejak bulan Oktober – November dan Desember 2017. Selain itu, kejadian seperti  ini, tidak hanya terjadi di Kota Probolinggo saja. Melainkan di daerah lain juga,” katanya.

Sejauh ini, pihak rumah sakit sudah melakukan komunikasi dengan BPJS pusat, untuk segera membayar piutang tersebut. Serta berkomunikasi dengan pabrik besar farmasi, agar tetap mengirim obat. Sebab sampai saat ini, pihaknya tetap menerima dan melayani pasien, walau ada kelangkaan obat. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Banyuwangi
Top

search Search