TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita
Gerakan Kembali ke Toko Buku

Pengadaan Buku oleh Sekolah, Penerbit dan Toko Buku Meratapi Nasib

04/01/2018 - 12:54 | Views: 4.27k
Edi Nasrul SH, berharap toko buku kembali ramai dan menjadi rujukan saat memasuki tahun ajaran baru, Kamis (4/1/2018). (FOTO: Lely Yuana/ TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, SURABAYA – Toko buku seakan mati suri. Ketika minat membaca tidak lagi seperti dulu. Terlebih sejak diberlakukan sistem pengadaan buku oleh sekolah, tak banyak generasi muda mengenal istilah berburu buku.

Menyusul penetapan Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2017/2018 dalam hal pengadaan buku teks pelajaran Kurikulum 2013, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 13/D/KR/2017, Tentang Buku Teks Pelajaran Kurikulum 2013 Melalui Buku Sekolah Elektronik (BSE). 

Surat edaran ditujukan kepada kepala dinas pendidikan provinsi, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan kepala sekolah pelaksanan kurikulum 2013 di seluruh Indonesia. Dengan adanya surat edaran ini, sekolah yang mulai melaksanakan kurikulum 2013 pada tahun 2017/2018, wajib membeli buku teks pelajaran kurikulum 2013 yang telah direvisi dari versi sebelumnya dengan pemesanan melalui e-katalog LKPP (lembaga kebijakan pengadaan barang jasa pemerintah) menggunakan dana BOS.

Toko-Buku.jpg

Buku teks kurikulum 2013 tersedia yaitu buku teks untuk kelas I, IV, VII, dan X baik itu buku siswa maupun buku guru. Pemesanan buku menggunakan user ID dan password dapodik sekolah masing-masing. Kondisi ini lantas menambah panjang daftar toko buku yang tutup serta penerbit yang gulung tikar. 

“Yang dirugikan bukan cuma penerbit, tapi juga toko buku dan masyarakat umum. Berapa banyak toko buku telah tutup di Indonesia, yang paling penting penerbit maupun toko buku dan pengadaan pakaian sekolah sudah tidak lagi merasakan ramainya tahun ajaran baru,” terang Edi Nasrul SH, mantan ketua Asosiasi Penerbit Indonesia (API) Surabaya (Non-IKAPI), Kamis (4/1/2018).

Menurut Edi, sekolah harus dikembalikan kepada fitrahnya sebagai tempat mencari ilmu, bukan untuk mencari profit. Dalam pengadaan buku oleh sekolah, pihak-pihak yang diuntungkan hanyalah sebagian dari kalangan percetakan dan sekolah yang menjual (koperasi). 

“Guru adalah pendidik bukan pedagang,” tambah pria kelahiran Medan, 22 September.

Dulu ketika tahun ajaran baru tiba, toko buku merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi pelajar guna mencari buku untuk bahan penunjang pelajaran. Tidak hanya itu, karena buku umum lain pun turut merasakan dampak penjualan. Kini tak seperti dulu, alih-alih dapat untung, bertahan saja sudah bagus.

“Penurunan sangat drastis sejak sistem ini berlaku, seperti mati suri. Buku-buku tak tersentuh,” ujar penerbit sekaligus advokat tersebut.

Buku.jpg

Edi berharap agar pemerintah tidak lagi memberikan kewenangan sekolah dalam hal pengadaan buku, sehingga siswa mencari sendiri di toko. Sebab disadari ataupun tidak, sepanjang waktu peran buku tetap dibutuhkan.

Saat siswa membeli di toko buku, otomatis ilmu akan luas karena melihat buku bagus lain yang akhirnya turut mereka beli. Dan tidak mustahil program pemerintah menimbulkan minat baca dapat terwujud. 

“Biarkanlah wali murid atau murid mencari di toko buku agar tercipta ekonomi kerakyatan yang merata. Bukan sekedar ekonomi konglomerasi, dan toko buku juga akan ramai sesuai dengan program pemerintah menggalakkan minat baca dan literasi,” imbuh pemilik perusahaan penerbitan CV Amelia ini. Bukan hanya buku, ia juga menghimbau supaya seragam sekolah lebih baik cari di toko. 

Meskipun keluhan itu pernah disampaikan dalam forum API, namun urung terlaksana. Karena Edi maupun rekan sesama penerbit lainnya mengaku pasrah atas keputusan pemerintah. 

API sendiri merupakan asosiasi penerbit independen yang bergerak di pasar bebas termasuk toko maupun distributor buku. Berdiri mulai tahun 2003, sebelumnya bernama Paguyuban Penerbit Surabaya. 

“Tapi kita akhirnya pasrah menerima karena keluhan ini tidak mungkin didengar oleh pemerintah,” ungkapnya.

Proses produksi mulai pra cetak, cetak dan finishing yang dulu sampai mempekerjakan 70 orang karyawan kini cuma menyisakan 11 orang saja. Sempat putus asa tapi tidak tahu harus bagaimana lagi, kenyataannya bisnis buku lesu sejak lima tahun terakhir. Namun bagaimana lagi, Edi harus menerima sembari mencari pemasukan di bidang usaha lain. 

“Kalau kita cuma mencoba bertahan saja, tapi sampai kapan kita akan kuat bertahan seperti ini. Sejak Kurikulum 2013 yang naskah bukunya disiapkan oleh pemerintah. Kita berharap sekolah tidak lagi menjadi tempat perdagangan, ayo kita kembali lagi ke toko buku,” harap pria yang merintis usaha penerbitan sejak 1995 tersebut.

Edi mengenal usaha penerbitan pada tahun 1986 di Bandung, dan mulai merintis sendiri pada 1995. Menerbitkan buku - buku umum seperti buku literatur khusus untuk Fakultas Tarbiyah atau Agama Islam. Sempat kolaps pada krisis moneter yang berpengaruh pada penjualan, karena bahan baku mahal. Edi mulai bangkit lagi pada tahun 2000. Hingga sampai sekarang menaungi sekitar 15 orang penulis di bawah bendera CV Amelia Surabaya. 

“Ada suatu kebanggaan menerbitkan buku yang dibaca oleh orang banyak. Kerja di penerbitan tidak monoton mencari profit saja tapi ada kepuasan batin, kita mengajari intelektual ke orang,” imbuh pria yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Narotama Surabaya Fakultas Hukum.

Sekitar 300 judul buku meliputi buku - buku Agama Islam, Alquran, buku penunjang pelajaran, kamus, buku - buku TK, maupun cerita untuk anak - anak diterbitkan serta diedarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Pasar paling besar mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun sejak adanya pengadaan buku siswa oleh sekolah serta hadirnya buku online, otomatis mengurangi pasokan pengiriman buku.

“Pengaruh pasti ada, tapi bagaimanapun orang membaca lebih baik di kertas paling tidak bisa dijadikan referensi,” tutur bapak dari empat orang putri, Nanda, Nadia, Mayang, dan Naswa.

Bagaimanapun juga, Edi serta penerbit lain yang masih mencoba bertahan tak pernah patah arang. Meskipun kondisi tak lagi berpihak serta dukungan pemerintah mengembalikan era literasi yang menguntungkan semua pihak belum kembali terwujud.

“Target saya tetap mencetak sebanyak - banyaknya serta menghadirkan buku - buku berkualitas,” tutup suami Firdaus Purnomo tersebut. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Banyuwangi
Top

search Search