TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Polresta Malang Selidiki Kasus Dugaan Jual Beli Ginjal RSSA

27/12/2017 - 16:49 | Views: 5.20k
Kabag Humas Polresta Malang, Ipda Ni Made Seruni Marhaeni, saat ditemui di Polresta Malang. (FOTO: Imadudin M/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, MALANG – Pihak kepolisian terus berupaya mengungkap kasus  dugaan keterlibatan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, Jawa Timur dalam kasus transplantasi ilegal ginjal, yang dialami oleh pendonor Ita Diana dan penerima Erwin Susilo.

Menurut Kabag humas Polresta Malang, Inspektur Polisi Dua Ni Made Seruni Marhaeni, proses penyidikan masih berlangsung. Berdasarkan hasil penyidikan awal, ditemukan keterangan bahwa Ita Diana sebagai pendonor ginjal sesungguhnya ditawari untuk mendonor, dan bukan dia yang menawarkan diri.

Ia mengatakan untuk mengungkap kasus ini, penyidik Polresta Malang telah melakukan pemeriksaan. Salah satunya pada Ninik, istri Erwin Susilo, dan Ita Diana, atas dugaan jual-beli ginjal itu. 

"Dia diperiksa sejak 24 Desember sampai sekarang. Polisi memerlukan keterangannya untuk mengungkap kebenaran atas kasus ini," katanya.

Selain itu, Polresta Malang juga akan segera memanggil ketua tim transplantasi ginjal pada RSSA Kota Malang, dr Atma Gunawan, dan direktur utama rumah sakit, Anwar Restu Kurnia, untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut.

"Ketua tim transplantasi dan Dirut pasti dipanggil, surat akan segera dikirim," terangnya.

Kasus ini berawal saat Ita, warga Temas, Kota Batu, Jawa Timur terlilit utang di sebuah koperasi setelah bisnisnya terpuruk. Ita yang putus asa pun tak berani pulang dan berada di RSSA selama tiga hari.

Menurut keterangan, Ita bertemu dengan seorang perawat di RSSA lalu dia dimintai nomor telepon untuk dihubungi oleh seorang dokter yang disebut bernama Rifai.

Dua minggu kemudian, Ita dihubungi Dokter Rifai, dan dikatakan nanti ada yang beli ginjal. Ita yang putus asa dan nekat menawarkan ginjalnya, lalu direspons oleh seorang pria bernama Erwin Susilo, warga Kota Malang.

Setelah itu, Ita bersepakat dan siap mendonorkan ginjal dengan harga Rp350 juta sesuai utangnya. Namun kesepakatan itu tanpa ada perjanjian di atas kertas. Setelah tginjal diangkat, Ita tak diberi uang sesuai kesepakatan. Ita mengaku hanya diberi uang Rp70 juta, lalu dua bulan berikutnya Rp2,5 juta untuk pengobatan, dan terakhir Rp1,5 juta. (*)

Jurnalis : Imadudin Muhammad
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search