TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Tak Terurus, Perpustakaan dan Air Minum Taman Sayu Wiwit 'Mati'

21/12/2017 - 14:30 | Views: 13.05k
Air minum taman dari PDAM Banyuwangi yang tak lagi berfungsi di Taman Sayu Wiwit Banyuwangi. (FOTO: Ahmad Suudi/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Dibangun apik dengan konsep yang jelas 5 tahun lalu, kini Taman Sayu Wiwit Banyuwangi menghadapi tantangan penanganan pemeliharaan.

Konsep awal pembangunan taman di depan Makam Pahlawan Wisma Raga Satria, itu menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman bagi warga dan wisatawan dilengkapi berbagai fasilitas umum (fasum).

Pembangunan berhasil mengundang warga, terutama pemuda mengakses Internet untuk mengerjakan tugas sekolah atau nge-game dan para sopir taksi konvensional yang ngetem di sana. Banyak juga wisatawan yang sengaja mampir untuk berselfie di bawah rindangnya pohon sawit hias yang ditanam di sebagian besar lahan taman.

PDAM-Banyuwangi-2.jpg

Taman kecil yang menarik itu memiliki fasum yang cukup lengkap seperti kursi taman, sambungan internet gratis, gedung publik terbuka, toilet, fasilitas air minum taman dan perpustakaan. Namun telah lama dua fasum terakhir, kini terbengklai.

Air minum taman tak lagi mengalir sedangkan bangunan fisiknya tetap berdiri kehilangan fungsi. Padahal bila terus mengalir bisa menjadi tempat minum warga yang berolahraga, pelajar-pelajar yang mengerjakan tugas dan wisatawan yang sedang berkunjung.

Kepada TIMES Indonesia, salah seorang pengunjung, Roby Kurniawan (23) juga menyayangkan rusaknya fasum penting itu. Dia berharap air minum taman dari PDAM Banyuwangi itu kembali berfungsi dan memenuhi kebutuhan minum para pengunjung.

"Air minum sangat dibutuhkan kawan-kawan yang internetan lama di Taman Sayu Wiwit. Banyak minum penting untuk kesehatan mereka yang mengakses gadget dalam waktu lama," kata aktivis asal Glenmore yang tinggal di Banyuwangi itu, Kamis (21/12/2017).

Begitu juga perpustakaan kecil di sudut belakang sisi utara Taman Sayu Wiwit, kotor tanda tidak pernah dimasuki manusia. Rak besar berisi buku-buku cerita menarik dan pengetahuan-pengetahuan penting juga hanya terpajang, berebu, tak pernah dimanfaatkan.

Banyak daun berhasil masuk berserakan dan mengotori ruangan, sehari-hari sepi hingga tidak jelas apa kegunaan bangunan itu.

"Tempatnya ke dalam, nggak ada papan petunjuk, jadi orang nggak tahu itu bangunan apa," kata Roby lagi.

Berdasarkan pantauan TIMES Indonesia memang hanya ada satu standing banner di dalam perpustakaan yang sama sekali tak terlihat dari trotoar, apalagi jalan raya. Ruang terbuka umum yang ada di sisi selatan selalu ramai dengan pemuda yang mengakses internet gratis, sedangkan di sisi utara bangunan perpustakaan sama sekali tidak pernah didatangi orang.

Kondisi itu bertentangan dengan gambaran taman yang berada di depan Kantor Bupati Banyuwangi itu sebagai tempat berkumpulnya pemuda terpelajar Banyuwangi. Ditambah pembangunan fasum di taman itu menggunakan uang rakyat dan sudah seharusnya dilakukan perawatan dan pemanfaatan sesuai fungsinya. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search