TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita
Mengenal Terpidana Mati Narkoba yang Tobat

Lolos Dari Regu Tembak, Roib Menjadi Guru Ngaji

09/12/2017 - 11:48 | Views: 20.71k
Cung Roib saat ngajar ngaji. (FOTO: Happy/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, PROBOLINGGO – Cung Roib, merupakan seorang warga Kota Probolinggo, Jawa Timur yang di tahun 2000-an sempat menggegerkan kota ini.  Ia yang saat itu tercatat sebagai PNS kota setempat, terjerat perdagangan  narkoba  jenis ganja seberat 11 kilogram.

Hakim kemudian memvonisnya dengan hukuman mati. Kini, 17 tahun setelah lolos dari hukuman mati karena mendapatkan grasi,  ia mencoba merangkai hidupnya yang baru.

Kebebasan di usia senjanya, didedikasikan untuk mengajar ilmu agama pada anak-anak dikampung barunya. Berikut cerita selengkapnya.

Kisah pilunya diawali usai bebas dari bui. Ia harus berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan di kampungnya. Lelaki berusia 57 tahun, warga jalan anggrek, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo Jawa Timur ini penuh lika-liku. 

Meski kini ia benar-benar bertobat dan menjalani kehidupannya sebagai seseorang yang baru, warga masih saja memicingkan mata ketika melihat sosoknya.

Terutama orang-orang yang dulu pernah dikenalnya, dan mengetahui jika ia pernah bermasalah dengan hukum.

Tanpa dibayar, Cung Roib yang pernah mendapat predikat mantan narapidana ini, sengaja memberi pengetahuan agama ke anak anak muda di kampungnya. Agar kelak jika mereka besar bisa  memilih dan memilah mana kehidupan yang salah dan benar.

“Tak mudah untuk kembali diterima masyarakat, setelah semua yang saya alami,” Ujarnya, ditemui di kediamannya, Sabtu (9/12/2017) siang.

Tanpa putus asa dan dengan tekun setiap hari, pria yang pernah menjadi terapis pemain sepak bola Kota Probolinggo ini, mengajar anak anak usia dini untuk lebih memperdalam ilmu agama.

Dengan cara ini, dirinya bisa terhibur dan tidak dihantui kehidupan kelamnya yang pernah di vonis mati oleh Pengadilan Negeri setempat. Namun saat ini, ia sudah menanggalkan semua kehidupan hura-huranya. Selama berada di Nusakambangan, pikirannya benar-benar dicuci bersih.

“Siapa yang tidak ketakutan, menghadapi vonis mati. Walaupun semua manusia akan mati, setidaknya saya tidak mau mati dengan keadaan begini. Saya ingin memperbaiki diri terlebih dahulu,” ucapnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search