TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Wisata
Majestic Banyuwangi

Camino De Ijen, Cara Baru Berwisata di Banyuwangi

09/12/2017 - 07:17 | Views: 6.20k
Arief Sholehan (kanan), Monita Putri Lisa Mery, Agustina dan peserta Camino De Ijen lain tengah menikmati perjalanan treking di Taman Langit Desa Banjar. (FOTO: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Kini ada cara baru dalam berwisata di Banyuwangi untuk menikmati alam yang indah dan keramahan masyarakat lokal. Bernama Camino De Ijen yang mirip dengan Camino Santiago di Spanyol, yang di Indonesia memang pertama kali dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Sekelompok peserta akan berjalan kaki dengan jarak panjang, tidak hanya lintas desa tetapi juga lintas kecamatan bersama-sama dalam perjalanan yang santai. Jika di Santiago wisatawan dari seluruh penjuru Dunia berjalan kaki berkonsep ziarah ke tempat-tempat suci Agama Nasrani, maka di Banyuwangi desa-desa, kuliner khas dan interaksi dengan warga yang menjadi tema kegiatan.

TIMES Indonesia mencoba menemui kelompok Camino De Ijen yang tengah menikmati treking di Taman Langit, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Mereka telah berjalan kaki sejauh total 50 kilometer selama 3 hari terakhir dari Pulau Santen ke Desa Macan Putih di Kecamatan Kabat, menginap lalu besoknya berjalan kaki ke Desa Banjar lewat Desa Pakel dan menikmati Treking Taman Langit, Jumat (8/12/2017).

Camino-De-Ijen-2.jpg

"Saya kerja di Jakarta pusing lihat gedung, macet. Kegiatan ini jadi gateway bersihkan hati dan pikiran, jadi detoksifikasi bagi aktifitas yang menjemukan. Kami semua makan banyak, melihat alam, disapa warga. Rasanya plong, siap beraktivitas kembali di Jakarta," kata Monita Putri Lisa Mery, tenaga ahli pemerintahan di Jakarta asal Semarang, yang mengaku kepincut Tali Abrem, jajan rasa jahe manis khas Banyuwangi.

 
Setelah puas menikmati kuliner-kuliner Desa Banjar, dari Sego Lemang hingga Kopi Uthek, malamnya mereka naik ke Puncak Ijen, berjalan kaki dari Paltuding ke Kawah Ijen. Kemudian hari terakhir, yakni hari Sabtu, mereka berencana melakukan Banyuwangi City Tour, tetap dengan berjalan kaki.

"Kita adalah negara yang paling sedikit minat jalan kakinya. Kami bekerjasama dengan karang taruna di setiap desa yang kita jadikan tempat menginap," kata Agustina, koordinator kelompok Camino De Ijen yang berisi 7 orang dari berbagai daerah, yang kebanyakan bekerja di Ibu Kota itu.

Agustina mengatakan sebenarnya banyak yang berminat mengikuti program wisata mereka itu, tapi tidak bisa ambil cuti kerja. Maka pihaknya berencana menggelar lagi dengan timing yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu libur akhir pekan.

Camino-De-Ijen-3.jpg

"Program wisata ini lebih menawarkan jalan kaki, kontempleasi dengan diri sendiri, memberi pengalaman memahami diri sendiri dan bersosialisasi dengan warga," kata Agustina lagi.

Mereka mengatakan terkesan akan kuliner Banyuwangi yang lezat yang mereka temui di sepanjang kegiatan jalan kaki, serta keramahan warga mempersilahkan mereka mampir. Jika salah satu dari mereka menumpang ke kamar mandi, warga membukakan rumah mereka lebar-lebar dan ngobrol panjang lebar.

"Kami ditanyai mau kemana, setelah tahu kami jalan kaki jauh mereka kaget. Di jalan banyak orang menyapa, saya nggak tahu artinya tapi paham maksudnya menyapa dengan ramah, 'pinarak-pinarak' begitu," kata Agustina lagi.

Camino-De-Ijen-4.jpg

Dia mengatakan banyak desa di Banyuwangi yang memiliki homestay-homestay dan cukup siap menjadi pos istirahat mereka. Tidak hanya digelar lagi, Agustina mengatakan memiliki harapan agar Camino De Ijen menjadi program wisata yang rutin, khususnya bagi wisatawan Jakarta dan kota-kota besar lainnya. (*)

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search