TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Antisipasi Banjir, Polresta Probolinggo Bantu Warga Buat Biopori

23/11/2017 - 18:14 | Views: 14.51k
Kapolresta Probolinggo, AKBP Alfian Nurizal membuat sumur resapan di permukiman warga (FOTO: Happy/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, PROBOLINGGO – Polisi dan warga Kota Probolinggo, Jawa Timur, bahu membahu membuat sumur resapan air atau biopori. Harapannya, saat hujan deras turun, air bisa dengan mudah terserap ke dalam tanah.

Upaya ini sangat efektif dan murah  mengatasi banjir, di saat cuaca esktrim dan intensitas hujan cukup tinggi.

Lokasi pembuatan biopori berada di jalan Merpati, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, yang setiap hujan lebat selalu terjadi banjir. Padatnya rumah warga, serta buruknya drainase, memaksa luapan air hujan menggenangi sejumlah rumah di kawasan ini.

Fenomena ini selalu dirasakan warga setempat, dan sampai saat ini tidak ada perhatian serius dari instansi terkait. Petugas BPBD terkadang menguras genangan air dengan menggunakan pompa. Sementara penanganan untuk jangka panjang atau permanen, belum ada. Hingga puluhan anggota Polresta Probolinggo dibantu warga setempat, membuat sistem biopori untuk resapan air.

Salah satu warga, Endang mengatakan, daerahnya itu memang langganan banjir, terutama saat hujan deras. “Setiap hujan deras banjir, mulai dari setengah hingga satu meter. Selama ini belum ada bantuan,” katanya, Kamis (23/11/2017).

Ada sekitar 100 biopori dan dua buah sumur resapan air, yang dibuat oleh polisi dan warga setempat. Dengan sistem biopori, setidaknya air hujan yang biasa menggenangi sekitar 125 rumah, bisa surut dalam waktu satu hingga dua jam saja. Sebelumnya, tanpa saluran biopori, air yang menggenang bisa bertahan antara dua hingga tiga hari.

“Harapannya warga sekitar sini bisa mengatasi banjir, dan tidak sampai tergenang hingga berhari-hari,” ujar kapolresta Probolinggo, AKBP Alfian Nurrizal.

Alfian mengatakan, pemasangan sistem bipori ini dinilai cukup efektif, khususnya di perumahan padat penduduk seperti di kawasan merpati, Kota Probolinggo ini. Sebab, untuk pembuatan saluran pembuangan air yang lebih besar, tidak mungkin. Itu karena sempitnya areal jalan dan gang, serta biaya yang sangat besar. Sedangkan untuk sistem biopori ini, setiap rumah memiliki dua lubang sistem bipori, dan memakan  biaya sekitar Rp 100 ribu saja. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Muhammad Iqbal
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search