TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

FK3I Jatim: Pembangunan Puncak Ijen Kurang Tepat

09/11/2017 - 15:42 | Views: 5.24k
Kepala Balai Besar KSDA Provinsi Jatim, Ayu Dewi Utari (kiri) saat menyampaikan sosialisasi didampingi Kasi Teknis Ijen, Sumpena di rest point Paltuding TWA Ijen (Foto: Hafil Ahmad/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Pembangunan di puncak Ijen berupa pagar pembatas dan Pendopo dan Mushola yang sedang berlangsung itu, menuai banyak kecaman. Namun pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Provinsi Jawa Timur tetap melanjutkan master plan itu.

Berbagai alasan penolakan atas pembangunan tersebut telah ramai diberitakan. Secara garis besar, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen dinilai sebagai destinasi wisata yang menyajikan panorama keaslian alamnya, sehingga mampu menjadi magnet para wisatawan dari berbagai belahan dunia dapat mengunjungi dan menikmati kelestarian ekosistem di sekitarnya.

Seperti yang disampaikan, Koordinator Daerah Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jatim, Arie Restu, pembangunan beberapa fasilitas untuk pengunjung yang berada di bibir kawah itu dinilai kurang tepat.

Seperti pagar pembatas yang direncanakan akan dibangun setinggi 85 centi meter dengan panjang 150 meter, Mushola yang berukuran 3 X 6 meter, Pendopo berukuran 3 X 9 meter, dan toilet dua pintu itu dikatakannya dapat merusak pemandangan alam di sana.

“Saya kecewa dengan pembangunan yang ada di puncak. Dari hasil pertemuan dengan Balai Besar KSDA dan beberapa elemen ini poinnya pembangunan tetap akan dilanjutkan. Walaupun mereka mengatakan sudah terlanjur, kami minta pembangunan itu dihentikan terlebih dahulu karena banyak yang melakukan protes,” kata Arie usai mengikuti sosialisasi BKSDA Jatim di Paltuding Ijen, Rabu (8/11/2017).

Arie berpendapat, sejak dibukanya TWA Gunung Ijen hingga sejauh ini tidak pernah memakan korban meninggal, lantas kajian yang dijadikan dasar sebagai pembangunan pagar dan fasilitas lainnya itu juga dinilai tidak jelas peruntukannya.

Alasan penolakan lainnya, Detail Engineering Design (DED) yang dilakukan oleh Tim Percepatan Pembangunan Ijen (TPPI) juga tidak dapat ditunjukkan oleh pihak Balai Besar KSDA, sehingga hal ini dinilai rawan kepentingan, misalnya bagaimana ketika terjadi merger antara pihak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan Kementarian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mengomersilkan destinasi wisata yang terkenal karena blue fire nya itu.

“Harus dilakukan pembongkaran dan dikembalikan seperti dulu. Kami tetap berusaha sekuat tenaga bagaimanapun caranya, termasuk mengirim surat ke KLH,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Provinsi Jatim, Ayu Dewi Utari mengatakan, pembangunan yang ada di puncak Gunung Ijen saat ini sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Bahkan sejak tahun 2014 lalu master plan sudah dibuat dan di-overlay serta disinergikan.

Sedang perencanaannya dilakukan sejak tahun 2016 dan baru dapat direalisasikan tahun ini yang hampir mencapai 60 persen. Selain itu, ke depan pihaknya juga akan melakukan pembatasan bagi wisatawan dengan cara memberlakukan tiket secara online.

“Alasannya adalah faktor sefety, keamanan. Dan di mana-mana di gunung-gunung dibangun kayak gitu, di Gunung Bromo, Gunung Tangkuban, di Gunung Semeru juga ada pagar pengaman seperti itu. Untuk keamanan pembangunan akan dilanjutkan,” kata Ayu usai melakukan sosialisasi di Rest Poin Paltuding Gunung Ijen.

Salah satu wisatawan asing asal Negara Belanda, Nathan saat diwawancarai menyatakan kekecewaannya setelah mengetahui adanya pembangunan di puncak Gunung Ijen. Dia mengaku tertarik untuk mengunjungi TWA Gunung Ijen karena kondisinya yang masih alami.

“Tujuan saya ke Ijen untuk melihat keindahan alam yang masih alami, tapi ketika saya sampai ke sini kecewa melihat setelah ada pembangunan seperti itu,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Pemandu Wisata Ijen, Andika Rahmat Hidayat yang mengatakan, sebagai pecinta alam dirinya hanya mampu menyampaikan aspirasi dan menyampaikan pernyataan ketidaksetujuan adanya pembangunan yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jatim.

Alasan yang dikemukakan, pembangunan di puncak Ijen dapat merusak keindahan dan tidak ada nilai estetikanya.

Andika menambahkan, seperti kita ketahui Kawah Gunung Ijen mempunyai kandungan asam yang sangat tinggi, asap belerang yang kuat dan hal itu dikatakannya dapat mempercepat kerusakan usia bangunan yang ada disekitarnya.

“Kalau pembangunan di puncak Ijen saya pikir tidak perlu, mubazir. Kalau pembangunan seperti di pondok bunder dan dikawasan Paltuding kami sangat mendukung,” kata Andika.

Andika melanjutkan, pihaknya mempertanyakan terkait kajian yang dilakukan oleh pihak Balai Besar KSDA, urgensi pembangunan yang ada di puncak Ijen terkesan mengomersilkan alam dan tidak mementingkan kelestarian ekosistem yang ada disana.

“Saya mencintai Ijen jadi gak mau Ijen rusak, tapi mudah-mudahan ada pembatasan bagi pengunjung,” ujanya. (*)

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search