TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Wisata
Majestic Banyuwangi

Ingin Jalan-Jalan Gratis ke Lokasi Wisata di Banyuwangi? Simak Caranya di Sini

08/11/2017 - 22:10 | Views: 13.98k
Wisatawan berfoto di hutan kecil De Djawatan yang dikenal dengan pohon-pohon tuanya. (FOTO: Ahmad Suudi / TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Dengan menyediakan waktu selama sehari, warga Banyuwangi, wisatawan nusantara, wisatawan asing atau siapapun bisa menikmati angkutan gratis ke tempat-tempat wisata menarik di Banyuwangi, Jawa Timur.

Ada beberapa rute yang disediakan Pemkab Banyuwangi, dimana setiap rute wisatawan akan turun dibeberapa tempat indah selama 1 hingga 2 jam.

Ada rute city tour yang akan mengantarkan wisatawan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria, Musium Blambangan, Klenteng Hoo Tong Bio, Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Masjid Agung Baiturrahman, Kalilo, Desa Wisata Osing Kemiren, hingga air terjun Jagir di Desa Kampung Anyar.

Kemudian rute Pulau Merah, selain wisata pantai di dekat Tambang Emas Tumpang Pitu itu, wisatawan juga bisa menikmati Pantai Mustika, dan Pantai Wedi Ireng yang kesemuanya berada di Banyuwangi bagian selatan. Ada pula rute perjalanan ke arah utara yang akan mengantarkan wisatawan ke Pantai Cacalan, Grand Watudodol (GWD), Bangsring Underwater hingga Waduk Bajulmati di Kecamatan Wongsorejo.

De-Djawatan-CseWK4.jpg

Rute ke Pantai Grajagan juga sangat menarik untuk dipilih karena akan membawa wisatawan mampir ke Djawatan dan Pantai 'pohon mangrove' Bedul. Semua rute di atas diberangkatkan dari Terminal Brawijaya pukul 8 pagi.

Satu lagi rute istimewa, yakni rute Kawah Ijen yang diberangkatkan tengah malam, hingga berkesempatan sarapan nasi lemang di Desa Banjar, Kecamatan Licin, dalam perjalanan kembali.

Tim TIMES Indonesia berkesempatan mencoba mengikuti rute Pantai Grajagan, hari ini, Rabu (8/11/2017). Bersama 6 wisatawan, kami duduk di mobil elf berkapasitas 11 orang, berangkat pukul 8 pagi dari Terminal Brawijaya.

Perjalanan terhenti di De Djawatan, di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, dimana ada puluhan Pohon Trembesi tua yang dahannya dipenuhi benalu. Hutan kecil belasan hektare itu milik Perhutani dan masuk dalam Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan.

Lengan-lengan panjang pohon kuno yang ditanam di masa penjajahan Belanda itu bercabang-cabang memanjang ke segala arah. Bahkan cabang dari pohon satu dengan pohon lain saling bertemu dan menjamin keteduhan tanah berumput di bawahnya.

De-Djawatan-DYrN5X.jpg

Keanehan lain dari De Djawatan adalah adanya gubuk yang dihuni ratusan kelelawar yang bergelantungan di atap, menjerit-jerit, terbang berkelebat, ribut di siang hari. Biasanya menjelang gelap mereka terbang serentak keluar untuk mencari makan.

Puas berswafoto di De Djawatan, wisatawan diajak bergeser ke selatan ke Pantai Bedul dimana ada kawasan mangrove Segoro Anak. Kawasan mangrove di Pantai Bedul dikenal sebagai tempat singgah burung migran sebelum mereka ke Australia dari Asia Timur. Entah bagaimana, tercatat 50 juta ekor burung berhasil menemukan jalur terbang (fly way) mereka yang mengharuskan singgah di Pantai Bedul.

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Pantai Grajagan yang kepopulerannya di Banyuwangi sempat memuncak di tahun 2000-an. Pantai berpasir hitam dengan batu karang di sisi kanan dan kiri itu, juga Pantai Bedul kawasan yang masuk Taman Nasional (TN) Alas Purwo.

Kepada TIMES Indonesia, salah satu wisatawan asal Medan bernama Enji Bancin mengatakan sangat merekomendasikan program angkutan wisata gratis ini untuk diikuti semua traveler. Dia mengatakan angkutan wisata gratis ini sangat membantu dirinya menjelajahi banyak tempat indah di Banyuwangi.

Bahkan dengan program angkutan wisata gratis ini dia telah mengikuti rute Bangsring, rute Grajagan dan berencana mengikuti rute Kawah Ijen.

De-Djawatan-BKbjt.jpg

"Awalnya saya mau ke Bromo dan Ijen. Lalu dadakan ikut program ini, jadi banyak lokasi yang saya dapat," kata wanita yang aktif di dunia pendidikan daerah pinggiran itu.

Wisatawan harus membayar sendiri keperluan makan dan minum serta karcis masuk, termasuk biaya parkir kendaraan. Untuk karcis masuk dan biaya parkir kendaraan, wisatawan setidaknya harus menyiapkan uang Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

Program ini berakhir pada tanggal 20 Desember. Registrasi bisa dilakukan dengan mengunjungi www.banyuwangitourism.com/jalanjalan, masuk ke menu jadwal dan melakukan pendaftaran online. Untuk jadwal Desember akan muncul pada akhir Bulan Oktober.

Ada beberapa jadwal dengan kuota masing-masing, pastikan kuota belum habis saat mendaftar.  (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search