TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita
Sumpah Pemuda 2017

Penulis Muda Banyuwangi Simpulkan Tak Ada Perang Etnis di Blambangan

28/10/2017 - 22:11 | Views: 9.41k
M Hidayat Aji Ramawidi (kiri) dalam acara bedah bukunya, Suluh Blambangan 2 (FOTO: Ahmad Suudi/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Bertepatan dengan Hari Peringatan Sumpah Pemuda ke-89, penulis muda Banyuwangi M Hidayat Aji Ramawidi (27) menggelar bedah buku karyanya yang berjudul 'Suluh Blambangan 2', di Aula Perpustakaan Daerah Banyuwangi, Sabtu (28/10/2017).

Buku itu sendiri salah satunya mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada perang antar etnis atau antar agama di Kerajaan Blambangan dalam sejarah.

Dikatakannya fitnah bahwa ada perang antar etnis dan antar agama di Blambangan dihembuskan Penjajah, sebelum dicetuskannya Sumpah Pemuda di tahun 1928, untuk memecah kesatuan para pemuda.

M-Hidayat-Aji-Ramawidi-2FWbh8.jpg

"Kita waktu itu diadu domba (dengan cerita perang antara) Blambangan dengan Bali, Blambangan dengan Jawa (Mataram). Secara agama kita juga diadu domba (seakan pernah terjadi perang antara) Islam dengan Hindu sehingga Blambangan jadi korban. Itu semua fitnah dan hoax," kata Aji.

"Jadi sebenarnya perang Blambangan dengan Jawa tidak ada, lalu perang antara Blambangan dan Bali tidak ada. Mungkin kalau ada hanya perselisihan kecil.

Jadi sejak dahulu sebenarnya kita antar suku dan antar agama sudah damai dan bersatu," tambahnya lagi.

Meski tidak bermaksud mempertentangkan dengan catatan sejarah yang ditulis pihak lain, misal catatan sejarah versi Belanda, dia mengatakan memang ada sejarah-sejarah berbeda yang ditemukannya.

Hal lain yang dia tulis di buku Suluh Blambangan II adalah bahwa Antonio van Diemen yang merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-9, memohon bantuan Kerajaan Blambangan demi menakhlukkan Kerajaan Mataram.

"Versi catatan Belanda, pihak Blambangan meminta bantuan ke Batavia, minta bantuan untuk menghadapi Mataram. Itu kan versi Batavia, versi Belanda. Kebalik kan. Jadi rata-rata seperti itu," kata penulis asal Desa Keradenan, Kecamatan Purwoharjo itu.

Dia mengatakan catatan sejarah tentang Blambangan yang sebelumnya beredar merupakan catatan sejarah Blambangan yang ditulis di luar Blambangan, penulisnya bukan dari Blambangan dan untuk kepentingan orang luar Blambangan.

Justru buku yang ditulisnya dengan dukungan komunitas Blambangan Kingdom Explorer yang ditulis dan berdasarkan penggalian data di Bumi Blambangan sendiri. (*)

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search