TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

“Menjadi Petani Itu Keren”

26/10/2017 - 14:46 | Views: 5.72k
Anggota DPR RI, Viva Yoga Mauladi, bersama Bupati Lamongan Fadeli dan Wabup Kartika Hidayati berbincang dengan petani, di Alun-alun Kabupaten Lamongan, Kamis (26/10/2017). (Foto: Ardiyanto/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, LAMONGAN – Bertani pada saat ini seolah tidak lagi menjadi pilihan pekerjaan yang menarik bagi sebagian besar warga Indonesia, utamanya kalangan pemuda Indonesia.

Rata-rata, mereka berpaling dari desa dan memilih mengadu nasib di kota-kota besar yang kian penuh sesak dengan beragam aktivitas. Tanah Nusantara yang subur pun, kini terancam mengalami krisis petani.

Padahal, generasi muda semestinya pulang ke desa untuk berkarier di bidang agrikultura, karena memilih pulang ke desa dan menjadi petani sebenarnya adalah pekerjaan yang keren.

“Menjadi petani itu sangat menarik,” kata anggota DPR RI, Viva Yoga Mauladi, di Alun-alun Kabupaten Lamongan, Kamis (26/10/2017).

Viva Yoga menempati Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan ini mengatakan, petani itu menjadi pekerjaan yang menarik apabila dipadu-padankan dengan perkembangan zaman.

Pertanian-LAmonganXDBdp.jpg

“Pertanian harus dikaitkan dengan program industrialisasi, apakah itu agroindustri, atau Agroforestri,” ujarnya usai menyerahkan 145 alat-alat pertanian seperti traktor roda 4, hand tranktor, combain, pompa, dan transplenter.

Untuk menumbuhkan ketertarikan masyarakat menekuni pekerjaan sebagai petani, memang harus ada pendekatan dan cara berbeda terhadap petani.

“Intinya petani dari hulu sampai hilir ikut dalam proses, misalnya pemerintah mendorong di setiap gapoktan membuat koperasi tani,” tutur Viva Yoga.

Lebih lanjut, Viva Yoga menjelaskan, petani di masa sekarang ini tak seharusnya hanya sebatas produsen. “Bukan hanya petani sebagai produsen yang nanam,” ucapnya.

Petani, melainkan juga mengolah dan memasarkan produk pertanian. Bahkan, pertanian tak hanya bisa dipadukan dengan agroindustri, atau agroforestri saja.

Namun, juga bisa dikolaborasikan dengan wisata. “Paska panen petani ikut terlibat, jika begitu modelnya saya yakin menjadi petani itu sangat menarik,” tuturnya.

Pertanian-LAmongan-BrQCm.jpg

Petani, juga bisa mengembangkan hasil pertanian dengan sistem pemasaran produk-produk pertanian tak hanya melalui offline, tetapi juga memanfaatkan internet. “Agar petani ada nilai tambah,” kata Viva Yoga.

Ide itu dilontarkan Viva Yoga bemula dari sejumlah kendala pertanian di Indonesia yang dihadapi, mulai dari lahan yang mengalami menurun hingga populasi petaninya yang menua.

“Karena problem struktur dan kulturan, ini menjadi tantangan bagi kita, dengan luas lahan masing-masing kepala keluarga tidak lebih dari 0,3 sampai 0,4 maka harus terintegrasikan menjadi kelompok-kelompik agar menjadi kuat,” ucapnya.

Namun, Kabupaten Lamongan membalikkan kendala tersebut, dengan mengembangkan program yang bisa meningkatkan produksi pertanian dengan modernisasi pertanian.

“Saya fokus peningkatan produksi, masyarakat sekarang juga paham tentang modernisasi pertanian,” ujar Bupati Lamongan, Fadeli.

Apalagi, Lamongan tidak dihadapkan pada persoalan penurunan lahan pertanian.

Lahannya tambah banyak, contohnya lahan jagung, awal kemarin luas tanam 58 ribu hektar, sekarang 68 ribu hektar, karena berhasil sehingga luas tanam tambah naik tidak turun,” tuturnya.

Nah, dengan adanya bantuan alat-alat pertanian dari dana APBN melalui Kementerian Pertanian, maka akan semakin meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian Lamongan. Apalagi, 40 persen produsi produk domestik bruto (PDB) Lamongan bersumber dari sektor pertanian. (*)

Jurnalis : Ardiyanto
Editor : Yatimul Ainun
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search