TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini

Menuntut Ilmu di Negeri Kangguru: Hari pertama

26/10/2017 - 11:33 | Views: 10.27k
Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Wakil Dekan III FKIP Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, MALANG – 23 Oktober 2017 ku mulai perjalan. Niat mencari ilmu tertanam dalam hati. Kurela meninggalkan keluarga, istri dan anak-anak, Ema, Itsna, Lia, dan Aris. Lucu-lucunya mereka dalam bermain. Keriangan mereka akan selalu teringat dalam ingatanku. 

Jam 2 dini hari saya dijemput oleh Travel Dieng. Travel yang saya pesan melalui online. Hanya lewat telpon semuanya pun beres. Tapi masalah disiplin waktu travel dieng sangat tinggi. Perjalanan malang Surabaya hanya ditempuh kurang dari 2 jam. Padahal saya tinggal didaerah sengkaling dan masih mengambil beberapa penumpang lagi didaerah kota.

Tiba di Surabaya tepat pukul 4.30. karena pihak travel harus drop penumpang ke terminal 1. Sementara pesawat saya ada di terminal 2. Ya garuda Indonesia tiket yang saya dapat harus naik di terminal 2. Terminal internasional kebanggaan arek-arek Jawa Timur.

Langsung saja saya check in beberapa saat karena situasi masih sepi. Setelah dicek identitas dengan tiket, dan tidak ada masalah bagasi sayapun ditimbang. Alhamdulilah 2 bagasi dengan berat masing-masing 16 kg dan 11 kg masuk bagasi. Tidak ada penambahan berat bagasi meskipun tertera diteket hanya 20 kg.  

Selesai semuanya saya lanjutkan menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslim, shalat subuh. Tersedia mushalla yang bersih didalam bandara yang megah ini.

Kuajak orang yang ada dibelakang saya untuk berjamaah. Saya akhiri shalat dengan berdzikir dan mengaji Al Quran seraya berharap semuanya akan berjalan dengan baik. 

Jam menunjukkan pukul 5.30 WIB beberapa menit sebelum boarding time 5.50 tiba. Kuurungkan niat membeli roti hanya sekadar mengganjal perut karena mepetnya waktu. 

Disamping saya tidak ingin terlambat dan tergesa-gesa. Saya teruskan masuk ke boarding room. Sebelum masuk demi keamanan dilakukan beberapa prosedur pengecekan mulai dari barang bawaan dan sebagainya. Karena tidak ingin berlama-lama seluruh peralatan logam yang melekat ditubuh saya seperti sabuk dan jam tangan sengaja tidak saya pakai, dan alhamdulilah tidak membutuhkan waktu lama untuk ini.

Sayapun duduk beberapa menit sebelum akhirnya suara panggilan berbunyi. Saya dapat nomor kursi 21A. posisi tempat duduk pas dibelakang tiket bisnis. Waktu masuk pihak maskapai memberlakukan skala prioritas dan nomor duduk 30-40 untuk masuk terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi desak-desakan didalam pesawat.

Bagian sayapun tiba, begitu masuk, tidak sulit saya menemukan tempat duduk saya. Sudah ada 1 orang dikursi itu yang khusuk membaca Koran pagi. Sapaan sayapun tidak diindahkan, tapi saya tetap tersenyum mungkin lagi konsentrasi. 

Dalam teori membaca dikatakan bahwa membaca adalah kegiatan aktif meskipun kelihatan pasif. Diperlukan strategi metakognitif dan kognitif untuk memahami isi teks. Apalagi kegiatan membaca cepat seperti itu, skimming dan scanning tentu sangat dibutuhkan. Disinilah saya memahami bahwa orang ini sedang konsentrasi tingkat tinggi.

Saya teringat bahwa membaca itu dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pemahaman literal, inferensial, dan membaca kritis. Lha, yang terakhir inilah yang menjadi kajian saya kenapa saya harus terbang ke Darwin, Australia. Nanti akan saya ceritakan bagaimana membaca kritis itu.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki untuk menempati kursi nomor 21B. kelihatan ramah dan santun. Benar saja, dia menyapa saya dengan sapaan yang lembut, dan sayapun mencoba untuk bersikap ramah dan lembut pula.

Si laki-laki inipun duduk bersandar dan membaca beberapa surat dalam al quran dengan khusuknya. Ketika penerbangan 30 menit diudara dia menutup kitabnya. Dan sayapun sapa beliau, “Ngaji terus, Pak.” Dia jawab, “Sebagai ikhtiar manusia mumpung masih diberi usia sama Tuhan”.

Luar biasa, sungguh jawaban diluar dugaan saya. Sebelumnya saya mencoba untuk meniru apa yang beliau lakukan. Karena dia mengaji, sayapun ikut membaca istighasah pada gawai android yang saya bawa. Namun niatan saya untuk menjaga ketenangan perjalanan. Namun orang ini telah memberi pelajaran pada saya untuk terus mengingat Allah dimanapun dan pada situasi apapun.

Tibalah kami di Cengkareng terminal 3. Orang ini sebelum turun dia lantas bertanya, “Mas, mau kemana?” saya jawab ke Jakarta tujuan Dikti. “Apa mas kerja di Dikti?” saya jawab tidak. Tapi dalam rangka lapor diri sebelum melanjutkan perjalanan ke Australia. Lantas laki-laki inipun membuka majalah yang ada disandaran kursi Garuda. “Mas, meskipun hanya nanti 3 bulan di Darwin, tolong usahakan bisa kesini dan kesana.” Dengan suara yang tetap takdim menuturkan saya jika dia orang yang sudah menjelajahi dunia. 

Tahu detail lokasi pariwisata dan tempat penting yang ‘kudu’ dikunjungi selama di Darwin, Northern Territory, Australia ini. Diapun tidak lupa menyampaikan selamat dan doa sukses untuk saya.

Perjalananpun saya lanjutkan ke dikti. Tapi tidak ingin berat-berat bawa koper. Akhirnya saya titipkan koper saya ke left baggage service dengan biaya 90 ribu rupiah untuk 2 koper saya dengan berat seperti yang saya sebutkan diatas. Perjalananpun saya lanjut ke dikti menggunakan Go Car dengan asumsi lebih murah dibanding harus menggunakan taxi.

Setibanya di dikti saya telpon Pak Jims, bagian PKPI ini. Tidak lama Pak Jims sudah membawa berkas kontrak yang harus saya tandatangani. Setelah saya pelajari isi kontrak (detail kontrak akan saya jelaskan kemudian) saya langsung tertuju pada pembiayaan, hehe, ternyata health assurance saya belum ada. 

Dari situ Pak Jims akan konsultasikan ke pimpinan. Dan ternyata jawabannya adalah sepertinya saya tidak akan mendapatkan biaya health assurance. Sayapun pasrah, karena belum sarapan, sayapun izin sarapan dan teruskan shalat dhuhur dengan harapan ada jawaban yang menyegarkan selepas shalat. Lagi-lagi doa saya tidak seperti bapak yang ceritakan diatas.

Jam 13.00 wib sayapun kembali ke lantai 5 gedung D Dikti. Pak Jims selang beberapa menit datang, dan ternyata jawabannya tetap. Tapi kontrak belum dibawa. Saya bilang, “Pak Jims, saya pasrah karena ini kesalahan saya.” Mendapat jawaban saya Pak Jimspun lega karena saya tidak marah kepadanya. Tapi kenapa Pak Jims lama sekali. Selang 30 menit beliaupun keluar dengan bersalaman, “Alhamdulilah, bapak dapar biaya asuransi kesehatan. Barusan pimpinan mengizinkan untuk diubah”. Hatipun berbunga-bunga, mungkin ini buah dari kesabaran.

Sayapun mantab menandatangani kontrak dengan materai 4 buah yang saya siapkan sendiri. Sambil menunggu kembali ke Cengkareng terminal 2, pesawat Qantas Airways yang saya tumpangi harus membawa saya dulu ke Sydney. Penerbangan dari pukul 08.10 p.m Senin, 23 Oktober 2017, akan tiba di Sydney pukul 7. Am. Waktu Sydney. Perjalanan masih akan lanjut ke Darwin selama kurang lebih 6 jam. Doakan semoga selamat sampai tujuan dan saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari perjalanan hidup ini. (*)

Muhammad Yunus
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search