TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ekonomi
Banyuwangi Berwirausaha

Usaha Kerajinan Tangan, Perempuan ini Raup Omset Jutaan Perbulan

25/10/2017 - 15:17 | Views: 9.95k
Ratna Yunita saat memamerkan usaha kerajinan miliknya di stand pameran Diskop-UM Banyuwangi di Gesibu Blambangan (FOTO: Dokumentasi Diskop-UM for TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Semangat pantang menyerah dalam membuka usaha baru ditunjukkan oleh Ratna Yunita (34) asal Perumahan Klatak Asri, Blok E2, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, patut diacungi jempol.

Pasalnya dalam membangun karir dibidang kerajian tangan ini nyaris tanpa modal sepeserpun.

Dengan keberanian diri untuk mempromosikan produknya kepada calon konsumen dan memanfaatkan bahan alam seperti, kerang, bulu ayam, kayu dan batuan alam yang dirangkai sedemikian rupa hingga menjadi kalung, gelang tangan, sabuk dari kayu, gantungan kunci, sampai kalung dream catcher.

Ratna sapaannya mengaku, untuk meyakinkan konsumen juga dibutuhkan waktu meskipun calon pembeli itu merupakan tetangganya. Modal kegigihan dan keuletan dalam menghasilkan sebuah produk yang mempunyai nilai jual dan memenuhi selara pasar dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Meskipun seiring jalannya waktu harus berpindah ke Pulau Dewata, Bali dikenakan minat pasar di Banyuwangi mengalami penurunan.

“Wah, indah sekali kalung ini, saya minat untuk mengecer produk ini,” kata Ratna menirukan ucapan pembeli pertamanya, Rabu (25/10/2017)

Dia menceritakan, keahliannya muncul setelah belajar kepada suaminya, Matnawa, yang semasa bujangnya merantau ke daerah Bali.

Dalam menjalankan usaha barunya, dia menggunakan sistem pay upfront atau bayar dimuka untuk dapat membeli kerajinan hasil keuletan tangannya. Dengan bermodalkan uang pesanan yang dibayarkan terlebih dahulu dari setiap konsumennya, hingga mampu menyisihkan keuntungan Rp 300 ribu perbulan dan memberanikan diri kontrak stan di salah satu Departemen Store di Banyuwangi dengan biaya sewa Rp 250 ribu per meter perbulan.

“Bersama suami saya kerja keras untuk mempercepat perputaran uang dan menghasilkan produk kerajinan. Tapi tidak maksimal selama 2 tahun karena omsetnya cenderung turun, hingga kami memutuskan untuk pindah ke Bali dan membuka stan di setiap tempat liburan,” kata wanita yang mengaku mempunyai dua putri itu.

Semangat untuk mengembangkan usahanya terus tumbuh, kata ibu rumah tangga 34 tahun itu. Dengan modal sisa barang-barang kerajinan di Banyuwangi dan dibawanya merantau ke Pulau Bali dan dititipkan di setiap tempat penjual kerajinan di berbagai tempat.

Dari kegigihannya Pasutri itu akhirnya membuahkan hasil. "Tanpa pikir panjang, saya menitipkan barang-barang kerajinan yang masih tersisa dari Banyuwangi ke stand-stan saudara saya. Bertahap, dan penjualanpun terus meningkat,” katanya menceritakan.

Seiring meningkatnya penjualan di Bali, sambung Ratna, lagi-lagi harus rela mengalami kejadian yang tidak diinginkan, dia menjadi salah satu korban tragedi bom di Jalan Legian, Kuta, Bali tahun 2002 yang menelan korban tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera.

Dalam peristiwa itu usahanyapun menjadi kacau, karena seluruh wisatawan baik lokal maupun asing pulang ke daerah dan negaranya masing-masing, sehingga sektor pariwisata di sana seketika menjadi lumpuh.

“Mau tak mau, kami harus kembali dan menetap ke Banyuwangi lagi. Perbedaannya hanya, tetangga sudah mulai mengenal produk kerajinan saya,” tambahnya.

Dari pasang surut usaha rintisannya, Ratna mengaku, sekembalinya dari Pulau Dewata diuntungkan dengan meningkatnya destinasi pariwisata destinasi sejak era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Ditambah juga, kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dikembangkannya tercatat dan masuk dalam binaan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskop-UM) Kabupaten Banyuwangi dan turut berperan meningkatkan omset usaha kerajinan yang dilakoninya.

“Total omzet penjualan sekarang tidak kurang Rp 4 juta per bulan. Belum lagi ditambah peningkatan penjualan melalui banyuwangi-mall.com dan pembukaan stan pameran berbagai even festival di tingkat kabupaten sampai pusat. Masih juga saya titipkan sebagian kerajinan tangan di beberapa stan penjualan setiap destinasi, misalnya di Pulau Merah,” pungkasnya. (*)

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search