TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Keluarga Korban Pistol Meletus, Gantungkan Harapan di PN Banyuwangi

25/10/2017 - 06:41 | Views: 3.90k
Suasana persidangan kasus pistol meletus yang mengakibatkan tewasnya PHL Polsek Songgon, Mahrizal Ilham Aulia di PN Banyuwangi (Foto: Hafil Ahmad/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Ema Istiroha (21) adalah istri dari almarhum Mahrizal Ilham Aulia, Pekerja Harian Lepas (PHL) Polsek Songgon yang menjadi korban tertembus peluru di kepala akibat pistol revolver milik Brigadir Edi Budi Hartono.

Saat itu, pelaku terjatuh saat bertugas menjaga Pos Pelayanan (Posyan) Wisata di Desa Balak, Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat 30 Juni 2017 lalu.

Ema sapaannya, menggantungkan harapannya semata-mata untuk masa depan putra mendiang almarhum yang berusia 8 bulan, Ferdiyal Krisna Aulia, di mata penegak hukum Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Dia menceritakan, saat ini merupakan pemanggilan ketiganya sebagai saksi dalam jenis perkara ‘Menyebabkan Mati atau Luka-luka karena Kealpaan’ dan sebagai terdakwa, Edi Budi Hartono di ruang Garuda PN Banyuwangi, Selasa (24/10/2017).

“Sampai hari ini, kejelasan nasib anak saya, belum ada komunikasi lagi,” kata Ema yang berusaha untuk tegar sebelum sidang berlangsung.

BACA JUGA: Keluarga Korban Pistol Polisi Minta Polri Bertanggung Jawab

Turut mendampingi, kakak korban, Hasnial Khotmah menceritakan, ketika mengingat kejadian itu, Brigadir Edi Budi Hartono sedang menjalankan tugas sebagai anggota Polri yang merupakan alat negara dan bertugas di Pos pelayanan wisata, seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 30 ayat 4.

“Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum,” bunyi ayat itu.

Hasnial menambahkan, saat ini kondisi psikologis istri almarhum telah berangsur pulih dan lebih tegar dari sebelumnya, setelah menghadiri sidang pemanggilan kedua sebagai saksi, Selasa 17 Oktober 2017 lalu yang saat itu histeris saat diperlihatkan pistol yang merenggut nyawa suaminya.

“Kita sama-sama, ini musibah adik saya juga musibah Pak Budi, yang jelas itu disengaja atau tidak, adik saya (Ilham) sudah meninggal, meskipun berat,” akunya.

BACA JUGA: Ini Kronologi Insiden Pistol Polisi Meletus Kena Kepala Versi Wakapolres Banyuwangi

Soal proses hukum, dia menyerahkan sepenuhnya sesuai aturan hukum dan per Undang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia. Dia mengaku tidak mengerti terkait pengetahuan dan proses hukum ataupun jalannya persidangan.

Niatannya, hanya ingin memperjuangkan kepastian biaya hidup dan pendidikan Ferdiyal Krisna Aulia hingga dewasa. Mengingat istri almarhum, Ema, yang hanya bekerja sebagai kasir di salah satu koperasi.

“Ema, sehari-hari tinggal sama ibu dan bekerja sebagai kasir di Koperasi Mitra, itu yang dibuat mencukupinya,” ucapnya.

Hasnial menceritakan, beberapa waktu yang lalu dari pihak Kepala Desa Balak, Ribut Santoso mendatangi rumah adiknya, Ema, sebagai mediator dengan membawa keluarga terdakwa untuk membicarakan santunan terhadap anak mendiang almarhum.

“Kalau dia punya anak, dia pasti tahu kebutuhannya apa,” pungkasnya. (*)

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search