TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Gaya Hidup

Warga Pelosok Banyuwangi Antusias Ikuti Sosialisasi Penyakit Hepatitis

22/10/2017 - 11:25 | Views: 5.57k
Warga Lingkungan Papring menyimak paparan Syifa dalam acara sosialisasi kesehatan. (Foto : Ahmad Suudi / TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Ratusan warga Lingkungan Papring, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur antusias mengikuti sosialisasi penyakit hepatitis. Lingkungan yang didominasi suku Osing dan Suku Madura itu berada di dekat hutan pinus Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara.

Acara itu diselenggarakan atas kerjasama Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang dengan menghadirkan ahli organ dalam dr Syifa Mustika Sp PD FINASIM yang juga merupakan dosen di UB. Hadir juga sebagai pembicara psikolog RSUD Blambangan Betty Kumala F MPsi Psikolog.

Kepada peserta sosialisasi yang kebanyakan telah paruh baya itu Syifa menjelaskan bahwa dari 8 jenis virus hepatitis yang ada di Dunia, 3 di antaranya kerap ditemukan di Indonesia. Virus Hepatitis A yang mengincar anak-anak, lalu virus Hepatitis B dan C yang cenderung menular di kalangan manusia dewasa.

"Kalau Hepatitis A ada gejalanya, mata dan kuku kuning, muntah-muntah, mencret dan bisa jadi wabah satu sekolahan kena semua. Tapi Hepatitis A bisa diobati sampai benar-benar sembuh," kata Syifa, dengan bahasa Jawa agar dipahami warga sekitar.

Dia juga mengatakan agar jajan anak-anak dikontrol dengan baik, pasalnya banyak beredar jajan berbumbu balado dengan pemedas rasa buatan berbahan zat kimia. Selain itu kebersihan diri juga harus terus dibudayakan.

"Lalu Hepatitis B dan C, ini yang harus benar-benar kita perhatikan karena tidak memiliki gejala.

Kemudian bila tidak diobati, misal selama 5 tahun Hepatitis B dan C akan tidak diobati, maka akan berubah menjadi penyakit hati lanjut atau kanker hati.

Sedangkan jalur penularan virus Hepatitis B dan C sama seperti cara penularan virus HIV, meski berbeda virusnya. Yakni dari transmisi horisontal seperti hubungan badan, hubungan darah dan penggunaan jarum suntik secara bergantian. Jalur penularan lain dari transmisi vertikal yakni melalui kandungan dari ibu kepada janinnya.

"Jadi semua harus setia pada pasangan masing-masing. Ibu hamil harus periksa dan kalau ke dokter atau mantri kesehatan harus dipastikan jarum suntiknya baru, harus yang masih ditutupi plastik," kata Syifa lagi.

Ditambah lagi dengan mengikuti vaksinasi kekebalan tubuh dan menggunakan perlengkapan pribadi seperti sikat gigi khusus untuk diri masing-masing, tidak satu untuk bergantian.

"Kalau sudah (merasa) terjangkit harus diperiksa cek darah. Jangan dikira-kira sendiri. Pada umumnya periksa screening hepatitis B bisa gratis, terutama ibu untuk hamil, di Puskesmas, " kata dokter asal Banyuwangi itu. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search