TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Partai Di-bully di Grup WA, Sikap Pengurus PDIP Patut Dicontoh

21/09/2017 - 15:23 | Views: 4.54k
Muadhim dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lamongan, Saim, memberikan keterangan pers ke media, di Kantor PDI Perjuangan, Kamis (21/9/2017). (Foto: Ardiyanto/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, LAMONGAN – Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memilih untuk tidak melaporkan pelaku ujaran kebencian yang tersebar di grup WhatsApp.

“Pemberian maaf karena semata-mata alasan kemanusian, karena isterinya itu sakit kanker stadium empat, maka, kembali pada persoalan kemanusian ini kita maafkan,” kata Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lamongan, Saim, Kamis (21/9/2017). 

Lebih lanjut, Saim menjelaskan, DPC PDI Perjuangan memberi maaf, juga karena pertimbangan, Md, pemilik nomor yang melakukan ujaran kebencian di WA grup,  sudah meminta maaf dengan datang ke kantor PDI Perjuangan sebanyak dua kali. 

Muadhim-dan-Sekretaris-DPC-PDI-PWmh6T.jpg 

“Dia ini minta maaf kepada seluruh wagra PDI Perjuangan di Kabupaten Lamongan dan umumnya warga PDI Perjuangan seluruh Indonesia. Beliaunya juga berjanji tidak mengulangi lagi, setelah ini Pak Md  juga akan membuat tulisan minta maaf di grup WA Buletin Wahas,” ujarnya. 

Saim mengatakan, DPC PDI Perjuangan juga tidak akan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. Apalagi, yang bersangkutan juga berjanji tidak akan melakukan perbuatannya lagi dengan meng-share ujaran kebencian terhadap PDI Perjuangan. 

“Bagaimanapun juga dia minta maaf, kalaumelakukan hal yang sama, maka PDI Perjuangan dengan sikap yang tegas akan membawa ke ranah hukum,” ucapnya. 

Lebih jauh, Saim menegaskan, adalah sebuah kesalahan PDI Perjuangan dikatakan sarang komunis. “Karena ini masuk pada share grup WA, saya tegaskan sekali lagi, bahwa PDI Perjuangan tidak partai sarangnya komunis, PDI Perjuangan ini ideologinya adalah Pancasila, maka kemudian PDI Perjuangan tidak kenal kompromi dengan PKI,” tuturnya. 

Di sisi lain, Md mengaku khilaf dengan membagikan tulisan yang mengaitkan PDI Perjuangan sebagai sarang komunis. 

“Beberapa hari yang lalu saya khilaf, saya tidak membaca secara jernih kemudian saya share saja, saya gak kefikirian apa saya share ke grup Buletin Wahas 1. Kemudian saya hubungi pak Adhim, saya kaget saya gak kepikir itu, semuanya adalah karena khilaf,” ujar guru PPKN di sebuah sekolah swasta ini. 

Md pun menyampaikan permintaan maaf ke PDI Perjuangan. “Saya diminta datang untuk meminta maaf melalui media saya juga datang ke sini. Oh tidak (saya tidak benci PDI Perjuangan, red) di sini dulur semua,” katanya. 

Ia menjelaskan, mendapatkan tulisan itu dari grup SMA di Tuban. “Tidak ada kesengajaan, saya kealpaan, saya fikiran agak kacau, ada masalah keluarga nyonya saya kena kanker. Ini copasan dari grup lain, saya tidak mikir lagi, tanpa baca langsung saya bagikan,” ucapnya. (*)

Jurnalis : Ardiyanto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2017 TIMES Banyuwangi
Top

search Search