TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES
Arema vs Persebaya

Secangkir Kopi dalam Meraih Mahkota Angka 6

14/08/2019 - 18:17 | Views: 16.77k
Yunan Syaifullah, Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, MALANGTIKET habis. Kabar yang tidak bersahabat bagi pecinta bola. Tiket bahkan sudah habis tak tersisa, jauh sebelum laga dimulai. Kabar tiket habis, bisa jadi cukup menyesakkan bagi sebagian besar penikmat bola. Tiket resmi yang  sudah dikabarkan habis bisa berujung untuk tidak mampu memenuhi dahaga penikmat dan pecinta bola terhadap mimpi dan harapan.

Laga ini bukan sekadar laga biasa. Laga prestise. Laga harga diri. Laga yang selalu dipenuhi dengan sejuta mimpi dan harapan. Kondisi hal itulah yang bisa digambarkan tiapkali Arema bertemu dengan Persebaya. Baik itu dalam level kompetisi resmi, level pramusim maupun turnamen.

Empat hari berselang setelah menikmati euforia hari kelahiran Arema, 11 Agustus pada 32 tahun silam, suka cita kelahiran harus diendapkan sesaat untuk melanjutkan roda perjuangan dalam kompetisi di level tertinggi dan lawan yang menanti adalah Persebaya.

Euforia dan perjumpaan dengan Persebaya dalam waktu yang berdekatan itulah hukum ekonomi bergerak otomatis menyertai mimpi dan harapan bagi pecinta bola.

Mimpi dan harapan terlanjur menyembul tinggi. Tak bisa lagi kendur dan mundur. Selera dan daya beli masyarakat bola dalam laga Arema dengan Persebaya melebihi batas moderat. Dalam waktu singkat, tiket pertandingan yang tersedia dalam waktu singkat dan jauh dari yang diperkirakan para publik mampu tergerus habis tidak tersisa.

Nama besar dan branding mampu dan mudah menggeser pasar ekonomi di dunia bola. Terlebih,  takkala Arema berjumpa Persebaya.

Arema, kini telah menjelma menjadi klub sepak bola dengan nama besar. Bahkan, secara sosial, Arema telah mampu menjadi ideologi sosial bagi masya-rakat di Malang Raya, dan juga di luar Malang.

Market share Arema dan Aremania begitu melimpah dan tersebar dimana-mana. Kalau orang luar Malang bertanya, dari mana? Menjawab dari Malang pasti dengan terbuka akan mengatakan Arema? Hal itu salah satu bukti begitu membuminya Arema di mata masyarakat.

Sepakbola bukan soal di lapangan saja. Sepakbola modern kini harus ditangani sebagai corporate yang sebenarnya dan serius oleh-oleh personal yang credible bidangnya dan tidak harus personal yang mengerti sepakbola dan memiliki keterkaitan dengan sejarah Arema itu sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang menikmati Arema. Bukan semata sebagai kesenangan atas kegiatan olahraga, melainkan ikut menikmati keuntungan material dan finansial atas Arema sebagai tim sepak bola beserta seluruh gejala ikutannya.

Sebuah klub sepak bola memiliki potensi untuk melahirkan konsep branding dan pasar sempurna yang potensial. Pertandingan sepak bola antara dua tim yang mengadu strategi dan taktik bukan soal menang atau kalah namun se-sungguhnya terjadi pertarungan branding yang dimiliki. Makin kuatnya branding tim sepak bola itu, pasar sempurna yang potensial akan terlahir dibalik satu pertandingan. Terlebih kali ini Arema harus bertarung dengan Persebaya.

Kasus di Indonesia, antara branding dan pasar sempurna potensial itu ter-lahirkan dari nilai-nilai keklasikan yang dimiliki klub sepak bola karena adanya faktor sejarah, gengsi, prestise dan prestasi klub itu sendiri. Branding dan pasar potensial makin lengkap dan kuat ketika terangkum adanya fanatisme dan dukungan pihak ketiga, dalam hal ini adalah sponsor.

Berangkat dari pemahaman ini, setiap pertandingan sepak bola dapat dilihat makna kebenaran ekonominya dengan mengantarkan pemahaman soal efisiensi dan mengapa pula efisiensi itu dianggap baik. Serta dapat juga diguna-kan untuk mengeksplorasi kekurangan dari efisiensi, yakni bagaimana efisiensi itu tidak adil dan mengapa pula kita rela membayar pajak yang dibebankan.

Ada kebenaran mendasar yang terkandung dalam pertandingan tertentu, antara tim sepak bola A versus B pada penetapan harga mana pun, mulai dari tiket, parkir, makanan dan minuman, serta komoditas pendukung lainnya yang ada di dekat stadion tempat berlangsungnya pertandingan.

Kebenaran itu berawal dari kenyataan bahwa produsen dan konsumen tidak harus membeli atau menjual dengan harga tertentu, baik itu produsen dan konsumen itu selalu dapat memilih.

Sudah barang tentu, ketika seorang konsumen (baca, penonton bola) terkadang harus mengeluh karena saat menginginkan sesuatu, seperti tiket masuk –para konsumen itu harus diminta menukarkan uangnya dengan nilai yang tidak tanggung-tanggung. Itu benar, tetapi meskipun harga-harga itu tampak keterlaluan, seorang konsumen hampir tidak pernah harus membayarnya.

Karena uang yang dimiliki masih bisa digunakan dengan cara lain, misalnya menonton bola di rumah melalui siaran langsung atau melihat layar lebar di dekat stadion yang dipasang oleh panitia pertandingan. Namun, kenapa harga yang tidak tanggung-tanggung itu mereka masih tetap harus dicari dan rela dibayarnya?

Di pasar bebas, setiap orang tidak membeli barang dengan nilai yang lebih rendah dibanding harga yang ditawarkan. Setiap orang juga tidak menjual barang-barang dengan nilai lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan. Alasannya sederhana, tak ada yang memaksa mereka melakukan praktek seperti itu, yang berarti kebanyakan transaksi di pasar bebas adalah untuk meningkatkan efisiensi karena membuat kedua pihak yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan –atau setidaknya tidak sama-sama rugi—dan tidak berusaha mencelakan pihak lain.

Setiap pertandingan sepak bola senantiasa berlaku mekanisme layaknya pasar bebas. Semua orang lebih suka menikmati pertandingan secara langsung di tempat pertandingan dan tidak memperdulikan sejumlah uang yang rela dibayarkan. Jadi, nilai produk bagi penonton sebagai konsumen sama atau lebih tinggi dari harga jual. Sedangkan, harga pokok bagi penjual sama atau lebih rendah daripada harga jual. Bisa jadi, ini remeh namun implikasi ekonominya dramatis sekali dan luar biasa.

Menariknya dalam laga ini sesungguhnya pertandingan untuk menyingkap misteri dibalik angka 6. Arema sudah memasuki umur 32 tahun. Angka 3 dikalikan 2 sama dengan angka 6. Dalam klasemen sementara, Arema berada di peringkat ke-6 dengan 6 kali kemenangan. Sedangkan, Persebaya berada dibawahnya dengan 6 bertanding hasilnya seri.

Angka 6, sejumlah pihak diyakini sebagai angka kesialan dan ketidak-beruntungan. Namun, dalam keyakinan Cina Klasik, angka 6 adalah pintu keberuntungan. Karena itu laga Arema-Persebaya adalah peperangan untuk merebut mahkota angka 6.

Laga penuh misteri bukan hal baru. Sebab sudah sejak dulu, pertandingan antara Arema dan Persebaya mampu menjadi motor dan penggerak sejuta mimpi dan harapan. Sekaligus tumbuhnya benih dan motivasi ekonomi yang menarik untuk dipelajari secara lebih mendalam. Akan tetapi, tetap saja mencengangkan di tengah cerita tentang kaya rayanya pemain atau pemilik tim sepak bola internasional, di Jawa Timur perputaran uang dari dunia sepak bola sesungguhnya tak kalah derasnya.

Pojok Pustaka, 14/08/19 Pukul 18:03

 

* Penulis Yunan Syaifullah adalah Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Copyright © 2019 TIMES Banyuwangi
Top

search Search