TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

17Agustus: Indonesiamu dan Kita

14/08/2019 - 11:48 | Views: 16.64k
Ketua LTNNU Suaeb Qury. (FOTO: Istimewa)

TIMESBANYUWANGI, MATARAM – Perayaan Indonesia Merdeka dari tahun ketahun,terasa mengembalikan Indonesia di masa lalu yang dititipkan oleh the faunding father dengan titisan darah perjuangan tanpa mengharapkan balas jasa. Mereka telah berjasa dan berani mengibarkan bendera merah putih atas nama Indonesia yang satu,  merdeka dari belenggu penjajahan.

Hari ini dan seterusnya merah putih akan berkibar sampai ke cakar langit, buktikan bahwa indonesiaku adalah kita yg mampu membagi optimismu untuk kemajuan bangsa, bukan membagi kue kekuasaan,buka juga kue ekonomi yang dinikmati sebahagian orang.

Jangan lagi ada kemiskinan yang masih menumpuk di pinggir kota dan desa, pencari kerja masih banyak yang anterian panjang, lapangan pekerjaan belum tersedia maksimal dan masuk sekolah, perguruan tinggipun masih biaya tinggi. Dan masih juga ada desa nan jauh disana sekolah dan  muridnya tidak bersepatu seragam, karena sekolahnya berdindingkan papan,  sama halnya juga, ketika musim kering tiba, rakyat rebutan mandapatkan jatah air bersih. 

Dan jika hari ini dan esok kemerdekaan yang hakiki akan didapat oleh kita dan warga bangsa adalah kepastian untuk hidup yang layak, bukan tanpa ada pengorbanan, harus dengan jerih payah dan perjuangan. Hal yang sama juga, apa yang dilakukan oleh para pendahulu yang telah menitipkan bumi pertiwi ini dengan optimisme. 

Bilamana meletakkan optimisme untuk Indonesia yang di usia 74 tahun, berarti memastikan bahwa manusia Indonesia adalah unggul dan tangguh bergerak maju,memanfaat potensi sumberdaya alam dan sumber daya manusianya.

Kemajuan dan keberadaban Indonesia dari periodesasi kepempinan di Negeri ini,  adalah jiwa yang merdeka sesunguhnya,  bukan kebergantungan terhadap asing dan menggantungkan Indonesia atas kepentingan golongan. Sejarah bangsa ini akan berada dititik puncaknya, kemerdekaan dirasakan secara saksama dalam jangka waktu yang tidak lama lagi, warga bangsa ini akan menikmati hasilnya. 

Bukankah Indonesiaku yang kaya dan subur ini,  sudah banyak menghasilkan sumber daya alam, minyaknya, teknokrat, pengusaha, konglomeratnya, air darat dan lautnyapun mengasilkan manfaat demi orang banyak. Apa lagi yang tidak disyukuri oleh para pemegang amanat kemerdekaan? 

17 Agustus 1945 dari orde ke era, apa bedanya, dengan kegembiraan yang dirayakan dengan simbol-simbol kecintaan yang semu, jika perayaan di  pascakemerdekaan adalah keyakinan untuk memantapkan nasionalisme dari Sabang sampai Merauke,maka kemerdekaan hari ini adalah menjaga komitmen kewarga negaraan yang menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. 

Rakyat bisa bicara secara langsung,  rakyat bisa melapor kasus Kades,camat dan bupati bila korupsi,  rakyat bisa protes bilamana raskin, PKH dan kartu indonesia sehat tidak dapat. 

Ruang demokrasi semakin terbuka luas,  begitu juga dengan program pemerintah bisa diakses dimana-mana dan bisa mengusulkan aspirasinya lewat dewan dan langsung ke bupati, Gubernur dan Presiden.

Riang gembira menyambut kemerdekaan dirasakan tanpa ada dendam politik,  sirkuit politik berakhir dengan canda tawa antara Jokowi dan Prabowo di MRT sambil menyaksikan indahnya jakarta. Begitu juga dengan spekulasi kabinet yang merepresantasikan ketertwakilan koalisi, bubarnya kaolisi atau konsensus baru ala ibu mega vs prabowo, jangan sampai ada lagi bongkar pasang komitmen awal buat partai koalisi indonesia kerja, menjadi Indonesia raya. 

Serba serbi menjelang perayaan indonesia merdeka, disudut kota dan desa dianjurkan untuk gembira, memasang atribut dan perlombaan,  gubernur, bupati dan wali kota sampai kepala desa ambil bagian menjadi juragan yang menghibur rakyatnya. 

Bahagianya anak-anak sekolah kelas mewah dan kelas menengah di kota memakai seragam, dikira tidak sebahagianya anak tani,  nelayan dan buruh, kusir dan pedagang kaki lima yang ada di desa,  mereka ini adalah kebanggasn yang tulus merayakan indonesia merdeka tanpa ada paksaan dan anjuran gurunya.

Mungkinkah kebahagiaan indonesia merdeka dirasakan oleh mereka rakyatmu" bupati lombok utara, wali kota mataram dan bupati lotim" yang baru saja mengenang 1tahun gempa yang melanda NTB. Bisakah mereka bahagia walau rumahnya belum selesai dibangun dan yang sudah pasti cukup senang.

Semoga saja cerita dulu, tidak terulang kembali pada 17Agustus 201, cukup dengan bersih-bersih sungai jangkok dan  lari karung tanpa menghadiri upacara peringatan 17 agustus 1945, bisa jadi akan dibicarakan lagi sama publik, apa iya seorang pemimpin tidak menjadi inspektur upacara. 
 

Apa memang serimonial upacara 17 Agustus yang diharamkan oleh wahabi dan syiah ini, membuat seorang pemimpin suatu wilayah yang merdeka harus meniadakan dirinya untuk yakin dengan perjuangan dan menghormati kemerdekaan yang direbut oleh pahlawan kita?.

Tapi itu sudah lewat, bisa jadi berdasarkan instruksinya Gubernur NTB,  agar seluruh RT RW sampai tingakat daerah harus memasang atribut kemerdekaan. Dengan memasang gambar pahlawan Nasional KH. Maulanasyekh Muhammad Zainuddin Abdul Majid, jika tidak apa ada sanksinya. 

Dan melupakan kesedihan warga masyrakat NTB yang dulu ditimpa musibah gempa dan sekarang menyambut kemerdekaan dengan riang gembira. Mengembirakan warga NTB,  bukan sekedar serimonial belaka, tapi apa yang dilakukan oleh Dr. Zul sebagai Gubernur NTB, hari ini bisa membahagiakan harapan generasi muda NTB dengan mengirim mahasiswa keluar negeri,berbagi cerita dan keluhan jumpa bang Zul da Umi Rohmi,  Global Hub Kayangan,  Motor GP 2021Mandalika, dan bersih itu indah zero weste serta banyak lagi yang lainnya.

Menyiapkan generasi juga adalah bagian membagian kemerdekaan, meyambut tentangan global 4.0 dan informasi teknologi yang semakin cepat dan merangsa untuk maju.  Begitu juga cara mu dan kita, merebut kemerdekaan hari ini dengan membagi harapan dan keyakinan optimisme membangun NTB untuk Indonesia maju dan kita adalah bagian yang melakukan perubahan untuk Indonesia.

Tugas berat generasi hari ini dan esok adalah bukan sekedar merayakan kemerdekaan dengan kegembiraan yang terlalu lama dan tidur,  ancaman didepan mata yakni cara beragama dan berbangsa kita yang mudah terhasut oleh issu atas nama agama dan radilkalisme. Maka, tidaklah salah Gus Dur berpesan "agama dan nasionalisme tidak bisa berdiri sendiri".

Menanamkan nasionalisme bisa saja dilakukan dari awal sejak anak mengenal lingkungan sekolahnya. Mengapa penting arti agama dan nasionalisme yang utama ditanamkan pada generasi hari ini? 

Bisa dibayankan,jika dalam sehari bisa 5-10 postingan orang dan kita mengajak kebaikan, patriotisme, toloransi dan islam yang ramahmatan lilalamin, lewat media sosial secara terus menurus seberapa pengaruhnya perubahan cara berpikir dan sikapnya.  

Tapi sebaliknya dominasi pesan dan postingan dimedia sosial yang melemahkan mental dan spirit keindonesiaan dan kebangsaan, juga lebih eksis dan mempropaganda dengan issu islam kaffah,  khilafah, kembali ke islam yang benar, islamnya para habait dan banyak lagi ajakan menuju jalan kebenaran yang dipresepsikan.

Dan inilah wajah Indonesia masa kini dan akan datang,  jika di kemerdekaan yang ke 74, bisa bergerak bersama menjawab tantangan dengan optimisme keindonesiaan yang utuh dan lahir bathin, maka persoalan seberat apapun yang dihadapi bangsa tidak akan meruntuhkan rasa nasionalime dan kecintaan kita kepada bangsa ini.

Begitulah caramu dan cara kita mengIndonesiakan diri kita,  bukan NKRI syariah atau apalah sebutanya dalam ijmak ulama II yang menghebohkan publik jagat media sosial. 

Bukan saatnya kini dan esok untuk merebut panggung yang kosong, semisal ijtimaq ulama atau apalah namanya,  tapi pangung yang istimewah adalah menyebar gagasan indonesia maju dan mandiri, bukankah pesan moral para tokoh dan pendiri bangsa ini bisa menjadi modal yakni"nilai dasar demokrasi adalah memanusiakan manusia dan mengaturnya, agar pola hubungan manusia itu dapat saling menghormati dan mampu bekerja sama, sehingga menciptakan kesejahteraan bersama" (KH. Wahab Hasbullah).

Meyakini indonesia maju di momentum 17 Agustus 2019, sepertinya sama apa yang dipikirkan oleh para pendahulu bangsa "bahwa indonesia tidak akan pernah bubar, sebab ada yang menjaganya yakni nasionalisme. Hal yang sama juga Bung Karno berkata "Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggali bangsaku dengan sebuah

'way of life', yaitu Pancasila." semoga hari ini dan esok Indonesiamu dan Indonesia kita meninggalkan sejarah baru untuk generasi masa depan.wallahualam bissawab.(*)

*)Penulis adalah Ketua LTNNU Suaeb Qury

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Pauzan Basri (MG-94)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Mataram
Copyright © 2019 TIMES Banyuwangi
Top

search Search