TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Virus Koruptor Lebih Berbahaya dari Corona

20/02/2020 - 01:00 | Views: 37.51k
Ach Syaifur Rizal, Ketua Rayon IKSASS Kangean, Mahasiswa Universitas Ibrahimy sukorejo Situbondo Jawa Timur.

TIMESBANYUWANGI, SITUBONDO – Hari-hari ini sebagian media ribut dengan virus corona, entah seberapa hebat dan menyebarnya virus ini ke beberapa negara, virus ini berawal dari negara china, sehingga menyebar dengan cepat ke negara-negara lain, diantara negara-negara yang dijatuhi virus untuk sumber saat ini yakni negara mesir, negara thailand, negara jepang, negara malaysia, negara australia, negara belgia, negara kamboja, negara kanada, negara finlandia, negara perancis, negara jerman, negara hong kong, negara india, negara italia, negara makau, negara nepal, negara filipina, negara rusia, negara singapura, negara korea selatan, negara spanyol, negara sri lanka, negara swedia, negara taiwan, negara inggris, negara amerika serikat, dan negara vietnam.

Dengan adanya penyakit virus corona ini, kita hampir lupa dengan para tikus-tikus kantor itu atau kita menyebutnya koruptor, semisal kasus saat ini, sebut saja satu kasus ialah kasus harun masiku sampai sekarang masih belum jelas berada dimana, seperti tikus yang sudah keluar dari lumbung, sehingga sulit sekali dilacaknya, atau memang beginilah ciri-ciri para pejabat main petak umpet, dan rakyat yang menonton permainan ini. Lucu sekali .!

Penyakit virus koruptor ini memang tidak pernah sembuh dari tahun ke tahun, dengan adanya virus ini, yang menangis adalah rakyat, yang tersenyum adalah pejabat yang koruptor, sungguh ini adalah penyakit virus terbesar, seolah tidak ada obatnya dan lebih berbahaya dari virus corona. Mungkin perbedaan virus koruptor dengan virus corona ini ialah kalau virus koruptor bertahun-tahun pasti ada bahkan bisa bertambah dan seluruh rakyat menangis dalam artian juga kena imbasnya, tapi kalau virus corona ini ada obatnya, ada yang mengatasinya, sehingga tidak terlalu sulit untuk mencegahnya. Media tidak perlu membesar-besarkan virus corona ini, apalagi kaum pembuat hoax diberi kesempatan menyebarkan yang aneh-aneh tentang virus corona yang tidak semestinya.

Mari saya tunjukkan sebagian bebarapa daftar para koruptor dari tahun ke tahun, sebut saja, suryadarma ali pernah menjabat sebagai ketua umum PPP terjerat kasus dana haji pada bulan juli tahun 2015, Patrice rio capella pernah menjabat sebagai Sekjen Nasdem terjerat kasus penanganan perkara bantuan sosial dan bagi hasil pada bulan oktober tahun 2015, Setya novanto pernah menjabat sebagai ketua umum partai GOLKAR (golongan karya), terjerat kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik yang merugikan negara hingga 2,3 triliun pada bulan juli tahun 2017, Idrus marham pernah menjabat sebagai Sekjen Golkar terjerat kasus PLTU Riau pada bulan agustus tahun 2018, Romahurmuzy pernah menjabat sebagai ketua umum PPP terjerat kasus jual beli jabatan pada bulan maret tahun 2019, ini adalah pejabat-pejabat yang mempunyai kedudukan strategis di kepemerintahan dan menggunakan kedudukannya dengan aji mumpung.

Masih banyak lagi yang belum di ungkapkan dan disebutkan kasus-kasus korupsi mulai dari tingkat daerah hingga ke pemerintahan, dan tidak pernah selesai pengobatannya dari tahun ke tahun. Fakta diatas hanya sedikit sekali yang ditulis terkait kasus-kasus korupsi ini. Ingat, hanya sedikit .!

Bagaimana indonesia bisa berkembang dan maju jika virus ini tetap menyebar ke daerah-daerah, sehingga jangan salahkan rakyat jika mindset rakyat terhadap pemerintah selalu apatis, karena pemerintah sendiri tidak konsisten mengobati virus ini.

***

*)Oleh : Ach Syaifur Rizal, Ketua Rayon IKSASS Kangean, Mahasiswa Universitas Ibrahimy sukorejo Situbondo Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*)Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi. 

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin
Copyright © 2020 TIMES Banyuwangi
Top

search Search