Politik
LSI Denny JA: Publik yang Pro Pancasila Mengalami Penurunan
18-07-2018 - 01:00 | Views: 2.76k
Denny JA. (FOTO: Tempo)
Denny JA. (FOTO: Tempo)

TIMESBANYUWANGI, JAKARTA – Lembaga Survei LSI Denny JA kembali merilis survei soal Pilpres 2019, di Jakarta, Selasa (17/7/2018). Survei tersebut menyatakan dalam kurun waktu 13 tahun, jumlah publik yang pro Pancasila mengalami penurunan. Di sisi pihak, yang pro NKRI syariah mulai menguat.

Hasil survei itu mencatat jumlah publik yang pro Pancasila menurun 10 persen, dari 85,2 persen ke 75,3 persen. Sedangkan, publik yang pro NKRI bersyariah, dalam waktu yang sama, mengalami kenaikan 9 persen, dari 4,6 persen menjadi 13,2 persen.

Lalu, mengapa prosentase publik yang pro Pancasila menurun? Survei ini menjawab dengan tiga temuan penting.

Alasan pertama adalah soal ekonomi. “Ketidakpuasan kalangan bawah akibat melebarnya kesenjangan (ekonomi, Red),” demikian seperti tertulis dalam rilis yang diterima Timesindonesia, Selasa, (17/7/2018).

Alasan kedua adalah soal paham alternatif. “Intensifnya paham alternatif di luar Pancasila mampu menarik, terutama warga muslim.”

Sedangkan alasan terakhir adalah soal sosialisasi Pancasila. “Paham Pancasila semakin tidak tersosialisasi secara efektif dari masyarakat kepada masyarakat.”

Lebih detil, survei ini juga mencoba memotret di kelompok apa saja pro Pancasila yang lebih terlihat atau dirasakan penurunannya.

Di kelompok warga berpenghasilan kurang dari sejuta per bulan, pada 2005 yang pro Pancasila masih sekitar 91,8 persen. Namun pada 2018 turun drastis menjadi 69,1 persen. Turunnya mencapai 22,7 persen.

Sedangkan yang berpenghasilan 1-2 juta per bulan, turun sebesar 8,6 persen; 2-3 juta per bulan turun 1,4 persen; dan yang berpenghasilan di atas 3 juta turun 1,4 persen juga.

Adapun dilihat dari jenis agama, survei ini juga menemukan hal yang mengejutkan. “Menurunnya pro Pancasila terjadi umumnya pada warga beragama Islam.”

Hasil survei ini menyatat, pada 2005, warga yang beragama Islam yang pro Pancasila prosentasenya sebesar 85,6 persen. Pada 2018 jumlah tersebut menurun jadi 74,4 persen. Turun 11,2 persen selama kurun waktu 13 tahun.

Namun, di pihak agama non islam, jumlah yang pro Pancasila justru mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen.

Sementara, dilihat dari sisi tingkat pendidikan survei ini juga memperlihatkan bahwa yang pro Pancasila mengalami penurunan secara merata di seluruh tingkat jenjang pendidikan.

Yang hanya lulus SD, turun 10,2 persen; lulus SMP turun 8,2 persen, lulus SMA turun 9,3 persen; dan yang pernah kuliah atau di atasnya mengalami penurunan 9,4 persen.

Untuk diketahui, pungumpulan data survei LSI Denny JA yang mengusung tema yang mengusung tema “Menurunnya Pro Pancasila dan Harapan pada Capres” ini dilakukan mulai 28 Juni-5 Juli 2018. Metode sampling-nya dilakukan dengan multistage random sampling dengan jumlah responden sebanyak 1200 responden. Adapun margin error nya 2,9 persen. (*)

Editor
: Faizal R Arief
Publisher
: Rizal Dani