Peristiwa - Daerah
Cerita Relawan Bagana Atasi Bencana Banjir Bandang di Banyuwangi
11-07-2018 - 19:35 | Views: 4.42k
Imron Rosidi (29) di lokasi banjir Alasmalang beberapa waktu lalu (FOTO: Rizki Alfian/TIMESIndonesia)
Imron Rosidi (29) di lokasi banjir Alasmalang beberapa waktu lalu (FOTO: Rizki Alfian/TIMESIndonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Meski masa tanggap darurat bencana banjir bandang di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, sudah berakhir, namun masih menyisakan sejumlah cerita.

Di tengah hiruk pikuk aktivitas evakuasi korban bencana banjir bandang lalu, ada sosok seorang relawan yang mungkin luput dari sorotan media.

Dia, adalah Imron Rosadi (29) pemuda asal Desa Sukomaju, Kecamatan Srono, yang bertugas menjadi relawan kebencanaan dari Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (Bagana).

Berseragam khas warna oranye, bersama dengan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Imron tak takut menantang bahaya untuk kemanusiaan.

Meski belum lama bergabung dengan tim Bagana, namun dia mengaku sudah punya chemistry dari pekerjaan yang dilakukan itu.

"Mau meninggalkan pekerjaan relawan ini rasanya sangat sulit. Mungkin karena jiwa sosial ini sudah melekat, jadi saya sudah terlalu cinta," ungkapnya kepada TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), Rabu (11/7/2018).

Imron mengatakan, siap dipanggil sewaktu waktu jika tenaganya dibutuhkan masyarakat. Meski tanpa imbalan apapun, dia mengaku bangga karena bisa menolong orang lain.

"Menolong orang lain itu tidak bisa dinilai dengan materi, karena itu saya sangat bangga. Bangganya bukan karena sombong, tapi lebih kepada bisa membantu sesama," imbuhnya.

Imron menceritakan, saat banjir bandang terjadi, ia bersama tim langsung bergegas berangkat ke lokasi terdampak. Meski kala itu hujan masih mengguyur, namun tak mematahkan semangat dan niat tulus darinya.

"Saya ingat betul waktu dapat kabar itu pas sarapan. Jadi setelah rekan menghubungi, langsung saya taruh makanan itu. Padahal itu menu kesukaan saya," cerita Imron sambil tertawa.

Sesampainya di lokasi terdampak banjir, dirinya langsung membaur dan bergabung bersama tim relawan lain untuk mengevakuasi para korban banjir bandang. Baginya, bersama dengan korban bencana alam adalah suatu anugerah.

“Karena saya bisa merasakan apa yang mereka alami. Ini bisa membuat saya lebih bisa menghargai antar sesama. Rasa empati tumbuh,  saya harus lebih bersyukur,” terangnya.

Menurut Imron, pemandangan lumpur dan material kotoran sisa banjir sudah hal biasa. Justru itu menjadi pemantik semangat untuk menolong lebih giat lagi. Bahkan ia mengaku berada di lokasi banjir lebih dari satu minggu tanpa pulang ke rumah sama sekali.

"Karena memang konsekwensinya demikian, jadi apapun yang terjadi akan saya dijalani," terangnya.

Imron mengaku ada pengalaman menarik saat menolong korban banjir. Ia sempat ditawari salah satu anak perempuan korban banjir untuk dipersunting. Bahkan keseriusan niat itupun diungkapkan, bahwa setelah selesai tanggap darurat bencana, Imron disuruh menikahi gadis tersebut.

Namun karena niat awal Imron hanya ingin menolong korban terdampak banjir saja, sehingga tawaran baik dari warga itupun terpaksa dengan berat hari ia tolak.

“Niat saya menolong korban banjir dan tidak ada maksud lain. Saya mohon maaf sekaligus berterima kasih, karena sudah memberikan amanah tersebut,” katanya sambil tersenyum.

Diakhir cerita, Imron berpesan bagi para korban banjir agar tetap semangat dan tidak patah aral.  Meski  masa tanggap darurat bencana banjir di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi telah berakhir, namun dirinya tetap tidak lupa akan peristiwa memilukan tersebut.

Seperti diketahui, banjir bandang menerjang kawasan Banyuwangi pada Jumat (22/6/2018). Atas peristiwa itu ratusan rumah di empat dusun  di Desa Alasmalang menjadi rusak. Bahkan akses jalan raya Jember – Banyuwangi sempat mengalami lumpuh total. (*)

Pewarta
: Rizki Alfian
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rochmat Shobirin