Peristiwa - Daerah
Cerita Dua Nelayan, yang Tak Mampu Mudik Ke Kampung Halamannya
13-06-2018 - 15:30 | Views: 4.00k
Dua orang nelayan Suwarno dan Mariyono saat mengecek perahunya di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali. Rabu (13/6/2018).(FOTO Khadafi/TIMES Indonesia)
Dua orang nelayan Suwarno dan Mariyono saat mengecek perahunya di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali. Rabu (13/6/2018).(FOTO Khadafi/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BADUNG – Di bawah teriknya matahari menyengat, dua pria paru bayah sedang mengecek perahunya masing-masing. Dua nelayan itu adalah Suwarno (60) dan Mariyono (64), mereka adalah seorang nelayan di Pantai Kelan, Kuta, Badung, Bali. Keduanya tak mampu mudik ke kampung halamannya.

Selepas mengecek perahu masing-masing, kedua nelayan tersebut berteduh dibawah pohon waru, sambil duduk dan bersantai diayunan yang terbuat dari bambu yang dirangkai dengan tali tampar bekas ikatan jangkar.

Saat dihampiri TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id), salah satu nelayan yakni Mariyono, mengeluarkan sekepal tembakau merk cap Jago, yang disimpannya di plastik bening, lalu dengan cekatan tangannya sangat tangkas, mencampur tembakau dengan cengkeh merk cap bintang, lalu digulung dengan kertas papir merk cap Semar dan menyulutkan korek api, kemudian mengisapnya dalam-dalam asap tembakau tersebut.

Nelayan-2.jpg

"Maaf saya tidak puasa, tidak kuat kalau sehari nggak ngopi sama merokok, apalagi kerjas panas-panas begini," ucapnya, sambil tersenyum saat TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id)mengampirinya. Rabu (13/6/2018).

Saat ditanya kenapa menjelang lebaran tidak pulang, pria asal Desa Rowokangkung, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini, dengan lugas dan santai menjawab tidak punya bekal untuk lebaran di desa-nya. 

"Iya terpaksa tidak pulang. Apalagi tanggkapan ikan berkurang sudah sejak bulan Desember lalu. Saya hanya tahun ini tidak pulang, padahal kangen sama keluarga, teman, kalau lebaran kan kumpul semua," jelasnya.

Mariyono, yang sejak tahun 1982 menjadi nelayan di Pantai Kelan, juga menuturkan bukan hanya dirinya yang tidak mudik tapi ada beberapa nelayan yang tidak mudik ke kampung halamannya.

"Iya kalau yang punya rezeki ada juga yang pulang, kalau saya tidak pulang, karena tangkapan ikan sedikit. Berbeda dengan tahun lalu masih ada ikan, kalau sekarang sedikit apalagi cuaca yang tidak menentu kadang angin kencang kadang tidak," ungkapnya. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Suwarno, pria asal Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini, menuturkan bahwa dirinya tidak pulang kerana biyayanya tidak ada. 

Para-Nelayan.jpg

"Saya nggak pulang, karena bekal tidak ada. Biasanya kalau tahun sebelumnya iya pulang setiap lebaran. Kalau lebaran itu, biyaya ongkos memang murah tapi uang untuk melancong (jalan-jalan) sama keluarga atau belanja itu yang banyak," ujarnya sambil tertawa. 

Selain itu, Suwarno juga menyampaikan saat lebaran dirinya sangat rindu sama desa-nya, namun karena biyaya yang tidak mencukupi Suwarno terpaksa merelakan dirinya menahan rindu suasan lebaran di desa-nya. 

"Iya kangen sama suasana Desa, kumpul-kumpul sama keluarga, sama teman-teman. Iya nggak apa-apa mungkin lebaran depan bisa punya rejeki untuk pulang ke desa," tutupnya dengan senyum tawar. (*)

Pewarta
: Muhammad Khadafi
Editor
: Yatimul Ainun
Publisher
: Rochmat Shobirin