Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Kiai Jazuli Pakis, Mustasyar NU Banyuwangi Generasi Pertama
16-03-2018 - 13:32 | Views: 10.89k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Saat ini jika berkunjung di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi Kota, maka akan terkesan didominasi oleh kalangan Muhammadiyah. Terutama di Lingkungan Duren, Ancar dan Pelampang. Namun siapa sangka, dari daerah tersebut juga muncul tokoh besar dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Dari Kelurahan Pakis, tepatnya di Lingkungan Duren, lahir seseorang yang kelak dikenal dengan nama KH Jazuli. 

KH. Jazuli atau lebih dikenal sebagai Kiai Jazuli Pakis merupakan Mustasyar pertama Nahdlatul Ulama Cabang Banyuwangi. Hal ini terungkap sebagaimana diberitakan dalam majalah Swara Nahdlatoel Oelama No. 7 Tahun II Rajab 1348 H. Kiai Jazuli ditunjuk sebagai Mustasyar bersama Kiai Saleh Syamsudin Lateng dan Kiai Salim atau Kiai Abdul Wahab Penataban. Dimana saat itu, merupakan mustasyar NU Banyuwangi generasi pertama.

Dalam berita di Swara NO tersebut, dikabarkan bahwa NU Cabang Banyuwangi baru didirikan pada 16 Januari 1930. Saat itu, yang ditunjuk menjadi Rois Syuriyah adalah Kiai Maksum Kemasan, sedangkan ketua tanfidziyahnya adalah Anjun Penghulu Muhammad Salim Kauman. Dari kepengurusan pertama itulah Kiai Jazuli ditunjuk sebagai mustasyar.

Posisi mustasyar tentu bukan jabatan yang remeh. Sebagaimana diatur dalam AD/ ART NU, Mustasyar adalah semacam lembaga penasihat yang tugasnya melakukan kontrol dan memberikan saran terhadap kinerja organisasi yang disusun oleh Syuriyah dan dilaksanakan oleh Tanfidziyah. Dengan tupoksi demikian, tentu hanya seseorang dengan kualifikasi keilmuwan dan reputasi keulamaan teruji saja yang layak menduduki posisi tersebut.

Apalagi jika melihat rekan sesama Mustasyar, yakni Kiai Saleh Lateng, merupakan ulama yang turut mendirikan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Selain itu, Kiai Saleh juga ulama yang memiliki reputasi di tingkat Internasional.

Sebenarnya tak banyak yang bisa diungkap dari sosok Kiai Jazuli tersebut. Namun, dalam beberapa penuturan sesepuh NU Pakis, Kiai Jazuli dikenal sebagai seorang alim alamah. Ia pernah memiliki pesantren dengan santri yang cukup banyak. Sebagaimana penuturan Haji Misbah Munir (78) dari Pakis Kalirejo. Kitab favorit yang diajarkan oleh Kiai Jazuli adalah Jawahirul Kalamiyah. Yaitu sebuah kitab tauhid Ahlussunnah wal Jamaah yang disusun oleh Syekh Thahir bin Saleh al-Jazairi.

Kealimannya dalam penguasaan ilmu agama menjadikan Kiai Jazuli sebagai seorang pejuang Ahlussunnah wal Jamaah yang tangguh. Pergolakan pemikiran keagamaan di awal abad 20 kerap kali mempertentangkan antara kalangan Aswaja dengan kaum puritan. Dimana pihak kedua kerap kali menilai tradisi dan amaliah kalangan pertama sebagai perbuatan tahayul, bid'ah dan churafat (TBC).

Tentu saja hal tersebut hanya sebagai stigma tanpa didasari oleh hujjah yang kuat. Dalam kondisi seperti inilah Kiai Jazuli tampil sebagai pejuang yang gigih guna menghadapi segala tuduhan tersebut.

Kiai Jazuli seringkali terlibat perdebatan dengan tetangganya yang banyak berasal dari kalangan Islam yang men cap amaliah tradisi Aswaja sebagai TBC. Pernah suatu ketika, Kiai Jazuli menaruh bedug di Masjid di Pakis Duren sebagai penanda waktu sholat. Maklum, saat itu pengeras suara belumlah ada seperti saat ini.

Inisiatif Kiai Jazuli yang juga banyak dilakukan oleh ulama Aswaja di Nusantara itu, menyulut pertentangan dengan tetangganya yang menganggap sebagai perbuatan bid'ah. Tuduhan tersebut, jelas dibantah oleh Kiai Jazuli. Tentu saja dengan argumentasi segenap hujjah dan literatur yang kuat.

Perdebatan itu makin ramai ketika tampil seorang anak muda berbakat. Ia tampil sebagai pembantah utama Kiai Jazuli. Meski telah kalah secara hujjah, tapi si anak muda yang masih berkobar-kobar semangatnya itu tetap ngotot menyalahkan.

Tanpa babibu, Kiai Jazuli menamparnya. Sejak itu, si pemuda tersebut hilang kesadarannya. Ia mengalami gangguan kejiwaannya hingga akhir hidupnya. Semenjak itu pula tak ada lagi yang berani mendebat.

Sikap Kiai Jazuli yang demikian kukuh dalam menghadapi pertentangan pemikiran tak hanya di lingkup kampungnya. Tapi juga di level yang lebih luas. Kiai Jazuli merupakan salah satu pengurus dari Nahdlatul Islamiyah. Yaitu sebuah jam'iyah pengajian yang diikuti oleh ribuan orang yang bertempat di Masjid Jami' Banyuwangi. Pesertanya tak hanya dari Banyuwangi, tapi juga daerah sekitar, termasuk dari Bali.

Perkumpulan yang dipandegani ulama besar Banyuwangi itu, menjadi semacam forum untuk meng-counter serangan-serangan kaum puritan.

Dari forum Nahdlatul Islamiyah itu, ia berjejaring dengan ulama-ulama besar Aswaja di Nusantara. Seperti KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Mas Alwi Abdul Aziz dan lainnya. Tak heran jika dikemudian hari, Nahdlatul Islamiyah tersebut bertransformasi menjadi Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi.

Dakwah Kiai Jazuli dalam mensyiarkan Aswaja di Banyuwangi, khususnya di Pakis Duren, memberikan nuansa keagamaan yang dinamis. Tak ada dominasi yang berlebihan tapi saling mendialogkan setiap hal keagamaan yang akan diputuskan. Fondasi dialog yang cukup kuat yang ditanamkan oleh Kiai Jazuli tersebut, berhasil membuat masyarakat untuk hidup berdampingan.

Terkait hal tersebut, ada satu cerita menarik ketika Kiai Jazuli menghembuskan nafas terakhirnya pada 29 September 1975. Apakah almarhum Kiai Jazuli ditalqin ketika usai dikubur sebagaimana amaliah dan keyakinannya ataukah tak ditalqin sebagaimana adat kebiasaan masyarakat Pakis Duren.

Kala itu, Misbah Munir yang ditunjuk oleh Kiai Abdullah Syafi'i Pakis untuk mendialogkan hal tersebut dengan para pemuka Muhammadiyah di Pakis Duren. Singkat cerita pihak Muhammadiyah memasrahkan keputusan itu kepada ahli waris. Akhirnya pun sesuai dengan keputusan keluarga, almarhum akan ditalqin sesuai dengan amaliah dan keyakinannya.

Setelah mendapat hasil dialog demikian, Misbah sesegera mungkin mengkabarkannya kepada para kiai, seperti Kiai Abdullah Pakis, Kiai Harun Tukangkayu, Kiai Suhaimi Jalal dan lain sebagainya. Tak butuh waktu lama, mereka segera bertakziyah dan almarhum pun dimakamkan di depan masjid Pakis Duren. Kiai Harun bertindak sebagai juru talqin. Sedangkan dari Muhammadiyah kebagian untuk memberikan sambutan perpisahan kala pemberangkatan jenazah.

Setelah sekian tahun lamanya Kiai Jazuli wafat, proses dialog di Pakis tak lagi berjalan dinamis. Perbedaan corak keagamaan membentuk garis damarkasinya masing-masing. Satu sama lain membentuk koloninya masing-masing meski tetap saling menghormati dan menjaga persatuan. Hal ini ditandai dengan pemindahan makam Kiai Jazuli yang awalnya di depan masjid ke pemakaman umum Pakis. (*)

Penulis : Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Pewarta
: Syamsul Arifin
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rochmat Shobirin