Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Kiai Muhyi, Partner Kiai Syafaat Rintis Pesantren Blokagung Banyuwangi
23-02-2018 - 11:15 | Views: 7.49k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Semua orang tahu bahwa sosok pendiri Pondok Pesantren Darusalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah KH Mukhtar Syafaat Abdul Gofur. Namun tak banyak yang mengetahui, jika Kiai Syafaat merintis pesantren tersebut, tak seorang diri. Ia juga dibantu oleh beberapa partner. Salah satunya, yang cukup legendaris adalah KH Muhyidin.

Kiai Muhyi, demikian biasa disapa, bukanlah asli Banyuwangi. Ia lahir di Pacitan pada tahun 1916. Tak banyak yang bisa diungkapkan dari latar belakang keluarganya. Namun dapat dipastikan ia berasal dari keluarga santri. Konon, ia masih memiliki hubungan darah dengan Kiai Hasan Besari, pendiri Pesantren Gerbang Tinatar di Ponorogo. Sebuah pesantren tua yang sangat legendaris. Ia juga masih sanak kerabat dari KH. Khozin, Pengasuh Pesantren Mahir al-Riyald, Ringinagung, Kediri.

Sebagai keluarga santri, Kiai Muhyi pun tak terlepas dari tradisi pesantren. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Hingga akhirnya ia nyantri di Banyuwangi. Tepatnya di Pesantren Tsamaratut Thullab di Desa Jalen, Kecamatan Genteng. Kala itu, pesantren tersebut diasuh oleh sang pendiri langsung, KH Ibrahim Arsyad.

Di pesantren yang terletak di ujung timur Pulau Jawa itu, Kiai Muhyi bertemu dengan Kiai Syafaat. Sebagai sesame santri kelana, keduanya berteman karib. Pertemanan yang kelak berlanjut hingga mendirikan pesantren bersama-sama.

Di Pesantren Tsamaratut Thalabah, Kiai Muhyi keluar terlebih dahulu ketimbang Kiai Syafaat. Namun Kiai Muhyi tak pulang ke kampung halamannya. Ia menikah dengan orang Banyuwangi, bernama Zainab. Nama terakhir ini sendiri, pada dasarnya juga seorang perantauan.

Latar belakang keluarga Zainab juga berasal dari kalangan pesantren. Ia adalah putri pasangan Kiai Karto Diwikiryo Abdul Hadi dan Nyai Aminah. Bapaknya, merupakan seorang ulama terkemuka di Yogyakarta pada masa Hamengku Buwono VII berkuasa. Keturunan dari Kiai Muhammad Asror Sadiyo. Sedang ibunya, berasal dari Margokaton, Sayegan, Sleman.

Dari pasangan Kiai Karto Diwiryo dan Nyai Aminah tersebut, terlahir enam putra-putri. Zainab sendiri merupakan anak kelima. Secara berurutan, saudara-saudaranya sebagai berikut: Mukijah, Rukiah, Rusydi, Khodijah, dan Maryam.  Keluarga ini, lantas pindah ke Banyuwangi pada tahun 1921.

Selang beberapa waktu, kawan karibnya di pesantren, Kiai Syafaat juga ikut keluar dari Pesantren Tsamaratut Thullab. Ia juga pindah ke Blokagung, ikut bersama saudaranya. Kehadiran Kiai Syafaat di kampung yang sama membuatnya senang. Lalu, lewat perantara dari Kiai Solekhan, seorang kiai sepuh dan dikenal memiliki kemarifatan di daerah Gambiran, Kiai Syafaat dinikahkan dengan adik ipar Kiai Muhyi, Maryam.

Kiai Muhyi dan Kiai Syafaat akhirnya hidup dalam satu keluarga besar Kiai Karto Diwikiryo Abdul Hadi dan Nyai Aminah. Kedekatan tersebut, lantas dilanjutkan untuk bersama mendirikan pesantren. Kiai Syafaat mendapat sebidang tanah yang diwariskan dari kakeknya di Dusun Blokagung. Lantas pada 15 Januari 1951, di tanah wasiat tersebut, Kiai Syafaat mendirikan Musholla dan mulai mengajar mengaji. Dari musholla itulah, lambat laun berkembang menjadi pesantren hingga sekarang mewujud pesantren terbesar di seantero Banyuwangi.

Dalam perkembangannya, Kiai Syafaat tidak sendiri. Ia dibantu kakak ipar sekaligus karibnya, yakni Kiai Muhyi. Selain itu, juga dibantu adik kelas keduanya di Pesantren Tsamaratut Thullab, Kiai Muallim Syarqawi.

Kiai Muhyi sendiri di Pesantren Darussalam yang dikembangkannya bersama Kiai Syafaat dan Kiai Muallim Syarqawi, lebih dikenal sebagai seorang yang faqih (ahli dalam ilmu fiqih). Jika Kiai Syafaat dikenal dengan kegemarannya mengaji kitab tasawuf Ihya Ulumuddin anggitan Imam Ghazali, maka Kiai Muhyi lebih dikenal dengan kitab fiqih Fathul Wahab bi Syarhi Minhajit Thullab yang ditulis oleh Imam Abu Yahya Zakariya al-Anshori. Dengan dua kecenderungan yang berbeda tersebut, membuat corak Pesantren Darussalam menjadi lengkap.

Kegemaran Kiai Muhyi terhadap kitab Fathul Wahab, tergambar dalam kesehariannya. Ia tak pernah berhenti mengajar kitab itu kepada para santri. Setelah khatam, ia kembali mengulangnya lagi. Demikian terus menerus. Dari haliah yang demikian, konon Kiai Muhyi sampai hafal kitab yang cukup tebal tersebut. Bahkan, dalam tidurnya, tak jarang ia mengigau dan dari bibirnya terucap kalimat-kalimat dari kitab yang dikenal memiliki kerumitan tata Bahasa tingkat tinggi itu.

Dalam kesehariannya sendiri, Kiai Muhyi dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia tak segan menuakan Kiai Syafaat, meski secara usia dan status keluarga lebih muda. Akhlaknya berbanding lurus dengan kealimannya. Selain itu, ia dikenal pula sebagai sosok yang gigih baik dalam berdakwah maupun dalam bekerja.

Tak hanya sebagai seorang yang faqih, Kiai Muhyi juga dikenal sebagai sosok yang ampuh. Seringkali ada orang yang menyaksikan ia berjalan di atas air. Biasanya ketika sungai Blokagung meluap, sangat sulit untuk menyebrang. Jembatan yang ada hanyalah jembatan bambu yang tentu sangat berbahaya untuk disebrangi. Dalam kondisi terdesak demikian, mau tak mau Kiai Muhyi menggunakan kelebihannya.

Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Muhyi dikarunia seorang anak dari pernikahannya dengan Nyai Zainab. Namanya Khudori. Namun pernikahan tersebut tak berlangsung lama, keduanya melakukan perceraian. Nyai Zainab lantas menikah lagi dengan Kiai Muallim Syarqawi, sedangkan Kiai Muallim sendiri kembali menikah dengan Nyai Shofiah dari Sumberurip. (*)

Penulis : Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU

Pewarta
: Syamsul Arifin
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rochmat Shobirin