Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Mengenang Kisah Kharismatik Kiai Abdullah Pakis, Pendiri Pesantren At-Taufiq
16-02-2018 - 08:46 | Views: 7.90k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Di pinggiran kota Banyuwangi, Jawa Timur, tepatnya di Kelurahan Sumberrejo, berdiri cukup megah sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) bernama At-Taufiq. Tak jauh dari sana, juga terdapat sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang juga bernama sama. Kedua madrasah tersebut, awalnya berada di bawah naungan Pesantren At-Taufiq. Sebuah pesantren yang pernah eksis pada dekade 60-an hingga 80-an.

Meski kini Pesantren At-Taufiq tersebut tak lagi eksis, namun keberadaan kedua madrasah tersebut masih tetap terjaga. Hal ini, tentu saja tidak terlepas dari peranan pendahulunya. Yakni sang pendiri Pesantren At-Taufiq, KH. Abdullah Syafi’i.

Kiai Dullah Pakis, begitu masyarakat Banyuwangi menyebut nama KH. Abdullah Syafi’i. Nama Dullah tak lain akronim dari Abdullah, sedangkan Pakis adalah nisbat dari tempat tinggalnya. Jauh sebelum menjadi Kelurahan Sumberrejo, daerah tempat tinggalnya tersebut, masuk kawasan Kelurahan Pakis. Biasanya disebut Pakis Sawi.

Sebagaimana para pendiri pesantren lainnya, jejak hidup Kiai Abdullah Pakis menyimpan banyak teladan. Mulai dari semangatnya mencari ilmu, membina keluarga hingga pengabdiannya kepada agama, bangsa dan masyarakat.

Tak ada catatan yang pasti kapan Kiai Dullah dilahirkan. Namun menurut keterangan anak pertamanya, Hj. Fatimah, orang tuanya tersebut diperkirakan lahir pada dekade kedua abad 20. Ia lahir di Lingkungan Kaliasin, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Keluarganya merupakan kalangan santri dan penganut agama yang taat. Hal ini terlihat dari gelar haji yang disandangnya, sebuah laku ibadah yang membutuhkan keimanan yang kuat untuk menunaikannya di masa serba sulit di paruh pertama abad 20. Ayahnya bernama Haji Syafi’i, sedangkan ibunya bernama Hajjah Aminah.

Berasal dari keluarga kalangan pesantren, Abdullah kecil pun dididik dalam lingkungan pesantren pula. Setelah belajar ke orang tuanya sendiri, ia mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Setidaknya ada dua pesantren besar yang pernah disinggahi. Yakni, Pesantren Al-Hidayah Lasem yang kala itu masih diasuh pendirinya sendiri, Kiai Maksum Lasem. Lalu, dilanjutkan ke Pesantren Tremas di Pacitan.

Semasa di Termas tersebut, Kiai Abdullah dikenal berteman akrab dengan dua orang santri. Seorang sama-sama dari Banyuwangi bernama Harun, sedangkan yang kedua adalah Hamid. Nama yang terakhir ini kelak dikenal sebagai ulama besar di Pasuruan, yaitu KH. Abdul Hamid Pasuruan. Mereka tinggal di Termas pada rentang tahun 1930-an.

Di pesantren yang diasuh oleh KH. Hamid Dimyati itu, para santri tidak hanya belajar ilmu agama saja. Namun ada juga yang mempelajari ilmu-ilmu kejadugan. Termasuk trio santri, Dullah, Harun dan Hamid tersebut. Pernah pada suatu hari, ketiganya bermain sepak bola dengan anak-anak kampung di sekitar pesantren. Akan tetapi, dalam permainan tersebut, anak-anak kampung bermain curang. Tak segan mereka menggunakan cara-cara kasar untuk memenangkan pertandingan.

Mendapat perlakuan yang semena-mena tersebut, Dullah yang darah mudanya masih mudah bergolak tersebut, tak sabaran. Ia terapkan ilmu kejadugannya. Tiang-tiang gawang yang terbuat dari pancang kayu yang cukup kokoh itu, ia tendang. Tak hanya roboh, tiang-tiang tersebut juga melesat jauh. Seketika pertandingan bubar. Semua lawan bermainnya lari terbirit-birit.

Pada tahun 1940-an, Dullah kembali ke kampung halamannya. Menyusul kawannya Harun yang jauh sebelumnya telah pulang. Ternyata persahabatan keduanya, tidak hanya sebatas persahabatan antar santri. Harun menghendaki kawan semasa di pesantren itu, menjadi bagian dari keluarganya. Dullah ia jodohkan dengan adiknya, Umi Kulsum.

Harun maupun Umi Kulsum adalah anak dari pasangan Ridwan dan Selok. Keluarga tersebut, berasal dari Pakis Sawi. Karena termasuk keluarga yang terpandang dan cukup kaya, maka semua anaknya diharapkan tinggal tak jauh dari orang tuanya. Termasuk juga Umi Kulsum setelah dipersunting oleh Dullah.

Di tempat tinggalnya yang baru tersebut, Dullah mulai mengamalkan ilmunya. Ia dipercaya memangku langgar atau mushala yang didirikan oleh mertuanya. Ia mengajar mengaji kepada anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya. Berkat ketelatenan dan kedalaman ilmunya, pengajian Kiai Abdullah berkembang cukup pesat. Pada 1956, pengajian langgaran tersebut berubah menjadi pesantren. Lengkap dengan asramanya.

Tak hanya anak-anak yang berasal dari Banyuwangi saja yang nyantri kepada Kiai Abdullah. Akan tetapi juga berasal dari daerah lainnya, bahkan tak sedikit yang berasal dari Bali. Pendidikannya pun bertahap juga dilengkapi madrasah untuk sekolah formal sebagaimana diceritakan di awal tulisan.

Perkembangan Pesantren At-Taufiq tersebut, tak hanya bergerak dalam pengembangan dakwah dan keilmuwan Islam saja. Tapi juga menjadi pusat pergerakan masyarakat. Pada tahun 1960-an, ketika ketegangan politik terjadi di pentas nasional, hal itu pun menjalar di Banyuwangi. Letupan-letupan kecil antara massa NU dan PKI kerap kali terjadi. Tak hanya berhenti pada propaganda saja, tak sedikit yang berujung pada pertarungan fisik yang menghilangkan nyawa satu sama lain.

Ketegangan itu pun menyulut para pemuda di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) di sekitar Kota Banyuwangi bertandang ke pesantren Kiai Dullah. Ada yang meminta perlindungan dan ada pula yang meminta diajarkan ilmu kebal. Sebuah bidang keilmuwan yang telah dikuasainya sejak di Termas.

Cerita yang cukup masyhur tentang kesaktian Kiai Dullah pada masa-masa itu, adalah saat massa PKI dari Kampung Pendarungan akan menyerang massa NU di Pakis Sawi. Jarak kedua kampung tersebut, tak lebih dari 3 Kilometer. Massa itu pun hanya berjalan kaki menuju ke Pakis Sawi. Namun saat itu terjadi keanehan. Dalam perjalanan itu, mereka seolah tersesat di hutan belantara. Tak satu pun yang berhasil mencapai Pakis Sawi, kemudian mereka memutuskan untuk pulang. Hal ini tak terlepas dari “pagar ghaib” yang dipasang oleh Kiai Dullah untuk melindungi kampungnya.

Satu cerita lain yang tak kala masyhurnya adalah tatkala masa Orde Baru. Menjelang pemilihan umum 1977, partai penguasa pimpinan Soeharto, dikisahkan sangat represif terhadap lawan-lawan politiknya. Kesalahan sekecil apapun dari lawan politik akan diusut tuntas dan diambil tindakan hukum.

Suatu ketika, di tengah kampanye, putra kedua Kiai Dullah, Kholil Abdillah, tanpa takut menghina partai berlambang pohon beringin tersebut. Tak ayal tindakan Kholil yang masih kanak-kanak itu, segera mendapatkan tindakan keras dari aparat keamanan. Bukan hanya kepada Kholil yang masih kanak-kanak, tapi juga kepada orang tuanya. Lebih-lebih Kiai Dullah adalah pengurus NU yang juga aktif di PPP. Ia pun segera di tahan di Polres Banyuwangi.

Saat dipenjara di Polres Banyuwangi itu, Kiai Dullah terlihat santai. Menjelang malam tiba, Kiai Dullah tak kunjung dilepas.

"Jika besok tidak dilepas," ucap Kiai Dullah, "tahu sendiri apa yang bakal terjadi," ancamnya seraya menghentakkan kaki ke bumi. 

Seketika itu, langsung terasa ada gempa yang mengguncang tahanan Polres Banyuwangi. Saat itu pula, Kiai Abdullah langsung dilepaskan.

Selain aktif di dunia pendidikan, Kiai Dullah juga aktif di dunia pergerakan. Tak cukup di PPP, Kiai Dullah juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama. Konon, beliau menduduki jabatan di tingkat Syuriah.

Perjuangan dan khidmat Kiai Abdullah untuk umat berakhir pada 10 Syaban 1405, bertepatan dengan 1 Mei 1985. Ia pergi keharibaan Sang Khaliq meninggalkan enam orang anak. Secara berurutan, diantaranya, Hj. Halimah, H. Kholil Abdillah, Adib Fahmi, Halim, Ali Adib dan H. Mashuda. (*)

 

*Penulis adalah  Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. 

Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rizal Dani