Peristiwa - Daerah
Tak ada Jembatan, Mereka Terpaksa Turun ke Sungai Tiap ke Sekolah
07-02-2018 - 19:59 | Views: 2.31k
Sejumlah siswa sisiwi dari yayasan Nurul Islam, yang harus berjuang menyeberang sungai setiap ke sekolah.(FOTO: Dicko W/TIMES Indonesia)
Sejumlah siswa sisiwi dari yayasan Nurul Islam, yang harus berjuang menyeberang sungai setiap ke sekolah.(FOTO: Dicko W/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, PROBOLINGGO – Puluhan siswa, mulai dari siswa PAUD,TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Sekolah Menengah Pertama, di Dusun Kedung Miri, Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, harus berjuang menyeberang sungai setiap kali ke sekolah.

Meski harus melepas sepatu dan harus basah seragamnya sebelum sampai ke sekolahnya di Nurul Islam, namun mereka tetap semangat menuntut ilmu. Begitu juga saat mereka pulang sekolah, mereka kembali menyopot sepatunya untuk menyeberangi sungai yang sudah puluhan tahun itu tidak ada jembatan. Dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. 

Secara bergiliran atau satu-persatu, siswa ini menyeberangi sungai selebar 35 meter yang merupakan aliran dari Gunung Argopuro itu. Derasnya arus sungai serta bebatuan yang licin seolah menjadi teman akrab mereka. Apalagi di musim penghujan saat ini.

Untuk siswa yang masih PAUD, TK dan kelas 1 hingga kelas 2 MI, mereka harus digendong orang tuanya untuk menyeberang sungai.

“Sudah terbiasa begini setiap hari om, kami sebetulnya sudah capek menyebrangi sungai setiap hari. Saya hanya ingin sungai ini diberi jembatan agar saya dan teman-teman lancar bersekolah setiap hari,” ujar Rendy, salah satu siswa kelas 3 MI di yayasan Nurul Islam, Rabu (7/2/2018). 
 
Setidaknya, ada sekitar 50 kepala keluarga (KK) yang tinggal di dusun ini, atau lebih dari 250 jiwa. Mata pencaharian warga rata-rata hanya sebagai buruh tani. Sedangkan aliran listrik pun di Dusun itu hanya sebagian yang memilikinya, karena aliran listrik tidak sepenuhnya masuk ke Dusun tersebut.
 
Selain puluhan siswa harus melintasi sungai untuk pergi ke sekolah, perputaran ekonomi warga juga bergantung kepada kondisi sungai ini. Mulai ke pasar, bekerja hingga membawa hasil panen, mereka juga harus melintasi sungai.
 
Jika sungai arusnya deras, karena hulu sungai hujan deras, aktifitas langsung terhenti, yang bisa dilakukan hanya menunggu debit air semakin mengecil.
 
Dikatakan Sri Wahyuni, salah satu warga setempat, saat dia pulang ke rumah pada malam hari, kondisi sungai besar, hingga terpaksa dia menginap di rumah saudaranya.
 
“Saya merasa kasihan kalau pas anak saya sekolah, suami bekerja, saya  yang gendong antar sekolah, saya minta ke pemerintah mohon dibangun jembatan, karena saya takut hanyut. Mau bagaimana lagi pas sungainya deras saya nyeberang, sudah sejak dahulu tidak punya jembatan sama sekali,” keluhnya.(*)

Pewarta
: Dicko W
Editor
: Faizal R Arief
Publisher
: Sholihin Nur