Peristiwa - Nasional
Indonesia Mampu Buat Serum Antidifteri
13-01-2018 - 20:08 | Views: 2.07k
ILUSTRASI. (FOTO: beritasatu.com)
ILUSTRASI. (FOTO: beritasatu.com)

TIMESBANYUWANGI, BANDUNG – Perusahaan produsen vaksin PT Bio Farma (Persero) menyatakan akan membuat antidifteri serum (ADS) dengan kualitas yang bagus dan harganya seperlima jauh lebih murah dibandingkan dengan ADS buatan luar negeri.

Direktur Utama Bio Farma Juliman mengatakan dengan memproduksi seluruhnya di dalam negeri akan jauh lebih murah dibandingkan membayar produk impor dari luar negeri.

Sebagai gambaran, katanya, harga satu dosis ADS berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. Dalam penanganan pasien difteri diperlukan bisa sampai delapan kali penggunaan serum.

Sehingga perkiraan biaya penggunaan ADS untuk satu pasien bisa mencapai Rp 20 juta. Kalau serum ADS sudah bisa diproduksi di dalam negeri, biayanya per satu pasien diperkirakan hanya Rp 4 juta saja.

"Bio Farma rencananya akan meluncurkan produk ADS sendiri pada September atau Oktober 2018," katanya di kantor Bio Farma Bandung, Sabtu (13/1/2018).

Sementara, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan vaksin produksi Bio Farma telah mendapat sertifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Bahkan, tambahnya, di Asia Tenggara, Bio Farma satu-satunya produsen vaksin yang mendapat sertifikasi dari WHO.

Menteri Nila menepis anggapan yang mengatakan bahwa vaksin Bio Farma yang murah, atau bahkan gratis bukan berarti kualitasnya tidak lebih bagus dari produk impor. "Kenapa seolah-olah vaksin Bio Farma mutunya beda dengan produk luar. Padahal tidak," bantahnya.

"Seharusnya kita bangga luar biasa. Saya salut lihat Bio Farma sudah 128 tahun eksis, dan jadi nomor empat terbaik di dunia dari 200 perusahaan vaksin," kata Nila saat berkunjung ke PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat.

Sekadar informasi, Kementerian Kesehatan saat ini membeli langsung produk vaksin Bio Farma dan memberikan secara gratis kepada masyarakat dalam program imunisasi rutin.

Saat ini, pemerintah tengah melaksanakan imunisasi ulang atau "Outbreak Response Immunization" (ORI) terkait kejadian luar biasa (KLB) difteri di 85 kabupaten-kota pada 11 provinsi Indonesia.

Pemerintah memastikan ketersediaan vaksin difteri yang diproduksi oleh Bio Farma mencukupi untuk pelaksanaan ORI maupun imunisasi rutin tersebut.

Selain itu pemerintah juga memastikan ketersediaan antidifteri serum (ADS) untuk pengobatan pada pasien yang positif terjangkit difteri cukup untuk 2018. (*)

Editor
: Faizal R Arief
Publisher
: Rizal Dani