Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Meneladani KH Djunaidi Asmuni, Pendiri Pesantren Bustanul Makmur Genteng
12-01-2018 - 10:33 | Views: 9.03k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Walaupun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tak lantas perjuangan berhenti dan segera menyongsong masa gemilang. Perjuangan dengan mengangkat senjata masih terus berlanjut. Belanda yang mendapat dukungan dari para sekutunya, kembali ingin menjajah bangsa ini.

Sontak saja, maksud Belanda untuk menduduki kembali Republik Indonesia, ditentang habis-habisan oleh rakyat Indonesia. Hampir di seluruh pelosok tanah air mengangkat senjata. Termasuk di Pamekasan, Madura.

Di bawah kepemimpinan seorang tokoh kharismatik yang bernama Kiai Djunaidi Asmuni, rakyat Pamekasan mengankat senjata melawan penjajah. Mereka tergabung dalam Laskar Sabilillah bagi yang sudah tua, maupun ke Laskar Hisbullah bagi yang masih muda. Akan tetapi, karena keterbatasan kekuatan dan pengalaman perang, pasukan Kiai Djunaidi Asmuni dapat dipukul mundur oleh Pasukan Belanda yang tergabung dalam NICA.

Tak hanya dipukul mundur, markas pasukan yang bertempat di pesantrennya Kiai Djunaidi di Desa Nampere, Pamekasan, juga dibumi hanguskan. Semua bangunan dan kitab-kitab Kiai Djunaidi habis dilalap si jago merah. Parahnya lagi, Kiai Djunaidi, keluarga dan sejumlah pengikutnya pun terusir dari tanah kelahirannya.

Kiai Djunaidi dengan istrinya, Nyai Sholehah, beserta putranya lari dari sergapan NICA. Ia pergi ke Pulau Jawa melalui pelabuhan kecil di Dusun Pandan, Galis, Pamekasan. Dengan mengendarai perahu layar milik H. Abdul Latif, mereka menuju ke Probolinggo.

Selain Kiai Djunaidi, pada rombongan pelarian itu, juga terdapat Kiai Zaini Mun’im. Jika Kiai Zaini menetap di Probolinggo dan mendirikan Pesantren Nurul Jadid di Paiton. Kiai Djunaidi melanjutkan perjalanannya ke Sukorejo, Situbondo. Ia tinggal di Pesantren Salafiyah Syafiiyah yang didirikan oleh salah seorang kerabatnya, KH. Raden Syamsul Arifin.

Spirit perjuangan Kiai Djunaidi yang demikian kuat tersebut, tak terlepas dari bimbingan orang tua dan pendidikannya. Kiai yang bernama asli Adnan tersebut, lahir di Desa Nampere, Galis, Pamekasan, Madura. Bapaknya merupakan seorang guru ngaji yang bernama Kiai Asmuni. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut, masih terhubung dengan garis keturunan Nabi Muhammad ke-35.

Tumbuh dilingkungan yang kental tradisi pesantren, Adnan atau Djunaidi kecil pun akrab dengan pesantren. Setelah belajar langsung kepada orang tuanya, ia mulai menjajaki petualangan intelektual dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Awal mulanya Pesantren Banyuputih, Pamekasan. Lalu, nyebrang ke tanah Jawa.

Di Jawa, Adnan belajar mengaji ke beberapa pesantren besar. Selain di Pesantren Buduran, Sidoarjo, ia juga nyantri kepada Hadratusysyekh KH. Hasyim Asyari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Juga ke Kiai Nawawi pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan.

Setelah dirasa cukup matang dalam bidang keilmuwan, Adnan dipanggil pulang oleh ayahandanya. Ia diamanati untuk melanjutkan pesantren rintisan orang tuanya yang berada di kampung halamannya tersebut.

Sebagai seorang kiai muda yang bergumul dengan para guru yang nasionalis dan anti kolonialisme, membentuk karakter yang sama pada diri Adnan. Ia tak hanya menjadi kiai pesantren saja, tapi juga turut angkat senjata melawan penjajah. Suatu sikap yang kelak mentakdirkannya untuk pindah ke Genteng, Banyuwangi guna mendirikan pesantren yang diberi nama Bustanul Makmur.

Setelah tinggal selama tujuh bulan di Sukorejo, Kiai Djunaidi kerap kali bermimpi melihat seberkas cahaya yang terang dari arah tenggara. Mimpi yang terjadi berulang kali itu, akhirnya ditanyakan kepada Kiai Syamsul Arifin. Atas petunjuk ayahanda Kiai As’ad tersebut, Kiai Djunaidi melanjutkan perjalanan ke arah tenggara.

Pengembaraan Kiai Djunaidi akhirnya sampai di sebuah desa yang masih penuh semak belukar. Tempat tersebut masih terkenal angker dan menjadi markas para pelaku tindak kriminal. Desa itu, bernama Kebunrejo di daerah Genteng, Banyuwangi.

Di tempat baru ini, ia mendapatkan tanah wakaf. Dari tanah ini, bersama para pengikutnya yang berasal dari Madura, Kiai Djunaidi mulai merintis kembali pesantren. Diantara yang membantunya adalah Kiai Kafrawi Zaini dan Sayyidah Ahmadah. Proses pendirian ini bertepatan dengan 1 September 1947.

Awalnya, Kiai Djunaidi hanya membangun Langgar sederhana dari bilik bambu dan beratap ilalang. Meski awalnya mendapat ujian yang cukup berat dari penghuni kampung yang mayoritas adalah para pelaku kriminal itu, akhirnya ia mulai mendapat simpati. Satu per satu anak-anak mereka mulai mau mengaji ke Langgar yang didirikannya tersebut.

Lambat laun dari Langgar sederhana itu, berubah menjadi pesantren. Pesantren yang diberi bernama Bustanul Makmur. Nama yang diambil dari nama desa itu sendiri, (Bustanul = kebun; Makmur = Rejo). Seiring waktu, pesantren itu pun berkembang pesat.

Di pesantrennya yang baru itu, Kiai Djuanaidi pun tetap mengobarkan semangat nasionalisme dan anti-kolonialisme. Ia mengajak para santrinya untuk melakukan perlawanan kepada Belanda yang juga bercokol di Banyuwangi kala itu.

Menurut penuturan Muchit Son, salah seorang santri Kiai Djunaidi, pesantren baru itu, kerap disatroni pasukan musuh. Pernah suatu ketika pesantren mendapatkan peringatan dari penjajah. Peringatan tersebut ingin membumi hanguskan pesantren lagi.

Mengetahui hal itu, Kiai Djunaidi memanggil Muchit Son. Ia oleh gurunya, disuruh untuk menaburkan segenggam kacang hijau di sekeliling pesantren. Bi aunillah, ketika pasukan penjajah itu akan mengepung pesantren, tak satupun serdadu penjajah yang bisa menemukan pesantren itu. Mereka hanya berputar-putar saja di luar pesantren.

Atas perjuangannya untuk negeri ini, pada 12 Mei 1954, atas nama Pemerintah Republik Indonesia, Kementerian Staf Angkatan Darat memberikan piagam penghargaan sebagai tanda jasa kepada Kiai Djunaidi.

Usai masa revolusi, Kiai Djunaidi tak pernah berhenti berjuang. Ia wakafkan dirinya untuk mengembangkan pesantren. Selain pendidikan salaf, Kiai Djunaidi juga merintis pendidikan formal. Hingga tutup usia pada 1977, Kiai Djunaidi telah berhasil mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah hingga Aliyah di pesantrennya.

Hingga kini, pesantren dan lembaga pendidikan lain tinggalan Kiai Djunaidi masih tetap eksis sebagai lumbung dari amal jariyahnya. Amal jariyah yang turut serta mencerdaskan anak bangsa di Bumi Blambangan. (*)

 

Penulis : Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU

Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rizal Dani