Peristiwa
Dengan Smart Kampung, 44 Persen Desa di Banyuwangi Berstatus Maju
08-01-2018 - 19:03 | Views: 1.89k
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Balai Desa Kaligondo bersama istrinya, Ipuk Festiandani (FOTO: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Balai Desa Kaligondo bersama istrinya, Ipuk Festiandani (FOTO: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, terus memastikan program Smart Kampung berjalan dengan baik di semua desa di Banyuwangi.

Anas meyakini, lewat program ini, semua desa bisa memberikan pelayanan publik yang terbaik bagi warganya.

Hal ini disampaikan Anas saat evaluasi dan konsolidasi Smart Kampung bersama seluruh Kepala Desa se-Banyuwangi di Balai Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Senin (8/1/2018).

“Dari 217 desa kelurahan di Banyuwangi, ada yang program Smart Kampung-nya sudah berjalan dengan baik namun masih ada yang belum maksimal juga. Saya berharap semua kades bisa melakukan langkah-langkah terukur untuk memaksimalkan program Smart Kampung di desanya masing-masing,” kata Anas.

Pemkab Banyuwangi telah mengevaluasi pelaksanaan Smart Kampung. Hasilnya, ada 95 desa (44 persen) berada pada tahap kategori 'maju' untuk pelaksanaan Smart Kampung, 98 desa (45 persen) tahap 'berkembang', dan sisanya 24 desa (11 persen) dalam tahap 'kurang'.

“Ini masih sisa 11 persen, harus bisa ya yang kategori kurang ini naik jadi kategori berkembang. Kita gotong royong bersama kembangkan ini,” kata Anas di hadapan para kades.

Anas menjelaskan, Smart Kampung adalah program pengembangan desa dari berbagai sektor dengan bantuan teknologi informasi (TI).

Ada tujuh kriteria 'Smart Kampung', yaitu pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, pengembangan pendidikan dan seni-budaya, peningkatan SDM, pengentasan kemiskinan, dan melek informasi hukum.

“Kriteria desa yang maju Smart Kampung-nya apabila ketujuh indikator tersebut dipenuhi dengan maksimal,” imbuh Anas.

Lewat program Smart Kampung, sejumlah pelayanan publik bisa dilakukan cukup di level desa. Misalnya pengurusan Surat Pernyataan Miskin (SPM) untuk akses pelayanan kesehatan yang dulunya warga mengurus hingga ke kantor kabupaten, kini cukup diurus di desa saja.

Proses surat keterangan yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini lebih singkat hanya beberapa jam saja. Selain itu, kantor-kantor desa menjadi pusat beragam aktivitas publik, mulai dari kesenian hingga pendidikan.

”Smart Kampung ini juga media kami untuk memicu desa lebih kreatif. Kini di desa-desa telah banyak program inovatif, misalkan ambulans desa, warung untuk warga miskin, bedah rumah warga miskin yang dibiayai desa, hingga antusiasme desa untuk menggelar tradisi dan menggarap potensi desanya sebagai atraksi dan destinasi wisata,” kata Anas. (*)

Pewarta
: Syamsul Arifin
Editor
: Yatimul Ainun
Publisher
: Rizal Dani