Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Kiai Nawawi, Kiai Kampung Pilih Tanding Dari Badean
05-01-2018 - 13:00 | Views: 2.71k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Tak jauh dari Bandara Banyuwangi, Jawa Timur, lebih tepatnya disisi utara, terdapat sebuah perkampungan yang bernama Desa Badean. Tradisi kesantrian di perkampungan suku Osing yang masuk wilayah Kecamatan Rogojampi ini, demikian kental. Jika ada anak yang tidak dimasukkan pesantren, pasti akan menjadi pergunjingan. Lebih-lebih pada tempo dulu. 

Tradisi santri yang begitu kuat itulah, melahirkan banyak kiai kampung di Badean. Mereka mendirikan pesantren dan menghidupkan langgar-langgar dengan aneka pengajian. Satu diantara kiai kampung yang berasal dari Badean tersebut, adalah KH Nawawi.

Kiai Nawawi terlahir sekitar tahun 1912 dengan nama kecil, Rowi. Ia merupakan putra dari pasangan Rois dan Umi Habibah. Dari jalur ibunya ini, mengalir darah kiai pada tubuh Rowi. Umi Habibah, ibundanya, merupakan putri dari Kiai Yunus yang berasal dari Tuban dan kemudian menetap di kampung tersebut.

Meskipun hanya seorang kiai kampung, kiprah Kiai Rowi tak bisa dipandang sebelah mata. Kehidupan di kampung tak lantas menyempitkan kiprahnya. Kedalaman ilmu membuatnya dikenal banyak pihak. Ibarat pepatah, dimana ada gula di sana ada semut. Begitu pula dengan ilmu. Dimana ada ilmu, di sana akan berduyun-duyun orang untuk menggali manfaat.

Kedalaman ilmu Kiai Rowi yang kemudian berganti nama menjadi Nawawi seusai menunaikan haji itu, terlihat dari pengalaman belajarnya. Selain belajar kepada orang tua, ia juga tipe santri pengelana yang belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tercatat ada beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat ia mengaji. Mulai dari Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo, Pesantren Tremas di Pacitan, dan Pesantren Lirboyo di Kediri. Beliau juga tercatat pernah nyatri kepada KH Abdul Muid di Tempusari, Klaten. Kiai Muid sendiri merupakan salah seorang mursyid Tariqah Syadziliyah.

Pengembaraan Kiai Nawawi dalam mencari ilmu tersebut, membuatnya tumbuh menjadi sosok yang alim, abid, zuhud dan rendah hati. Kealiman tersebut, misalnya, begitu menonjol dalam ilmu falaqiyah. Ilmu yang mempelajari soal astronomi dan perhitungan tersebut, ia kuasai secara mendalam.

Terkait dengan kealimannya dalam ilmu falaqiyah, terdapat satu cerita populer yang disaksikan oleh banyak orang. Suatu ketika di Dusun Pancoran, Desa Karangbendo, sekitar empat kilometer dari kediaman Kiai Nawawi, sempat terjadi kebingungan dalam menentukan arah kiblat kala mau membangun masjid. Berita itu pun tersiar hingga ke telinganya. Sontak saja, Kiai Nawawi berangkat ke kampung tersebut, guna menentukan arah kiblat yang benar.

Saat itu, menurut kesaksian banyak orang, Kiai Nawawi tak tanpak melakukan pengukuran sama sekali. Ia datang dan langsung saja menunjuk titik-titik guna menjadi acuan arah kiblat. Karena dikenal memiliki reputasi kealiman, masyarakat Pancoran ikut begitu saja atas saran Kiai Nawawi tersebut. Selang beberapa waktu saat pihak berwenang datang untuk mengukur keakuratan kiblatnya, ternyata isyarat yang ditunjukkan kiai kampung tersebut, sangat presisi.

Tak hanya dikenal alim, ia juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tak memberi sekat dengan masyarakat. Setiap harinya, ia bertemu dan bergaul dengan masyarakat. Di tengah pergaulannya yang intens itulah, ia sisipkan secara perlahan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan dan pola pikir masyarakat di sekitarnya.

Kelembutan hati Kiai Nawawi tak hanya tercermin di kala bertemu dengan orang. Interaksinya dengan alam pun ia jaga sedemikian rupa. Ia pernah memilih jalan memutar yang cukup jauh, misalnya, demi menghindari mengganggu gerombolan burung yang sedang makan di tengah jalan yang akan dilaluinya. Sikap-sikap yang demikianlah yang membuat kiprah Kiai Nawawi disegani banyak pihak.

Sikap Kiai Nawawi yang lembut tersebut, juga terlihat kala menghadapi tragedi G30S/PKI. Situasi politik menjelang lengsernya Orde Lama itu, benar-benar membuat dikotomi di tengah masyarakat. Ada sekat yang tinggi antara komunis (PKI) dan non-komunis yang didominasi warga Nahdlatul Ulama (NU). Di kelompok yang terakhir inilah, Kiai Nawawi berdiri.

Di tengah sengitnya pertentangan tersebut dan seringkali berujung pada pertumpahan darah, Kiai Nawawi menunjukkan keteladan dan sikap yang rasionalistik. Ia menyeru kepada warga Badean untuk tidak ikut-ikutan terprovokasi situasi konflik kala itu. Sejauh mungkin menghindari konflik fisik, terlebih dengan sesama warga Badean sendiri yang notabane-nya satu sama lain masih terikat hubungan persaudaraan.

Bahkan, ketika banyak warga Badean yang geram dan resah karena Sekolah Dasar di kampungnya banyak diisi oleh guru-guru yang berafiliasi dengan PKI, Kiai Nawawi tak menggerakkan massa untuk menggempur. Justru ia dengan brilian, dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat Badean seperti Kiai Dailami Ahmad, Ustad Paseh, Ustad Wahidni, Ustad H Dainuri Ahmad, Ustad Naim, Ustad Chaerudin dan lainnya, menginisiasi berdirinya Madrasah Ibtidaiyah yang diberi nama Al-Inayah. Hingga saat ini, madrasah tersebut tetap berdiri dan menjadi sekolah favorit warga Badean.

Dengan kiprah yang demikian, Kiai Nawawi juga tak terlepas dari kisah-kisah karomah yang menyelimutinya. Salah satu cerita populer yang berkembang di tengah masyarakat adalah soal pembebasan kapal laut yang terdampar di dekat Pantai Watudodol, Wongsorejo. Saat itu, berbagai upaya untuk menarik kembali kapal yang kandas itu ke tengah laut, selalu berujung pada kegagalan.

Kejadian yang terjadi pada medio tahun 1980-an telah membuat sang pemilik kapal frustasi dan panik karena kapalnya tak kunjung terselamatkan. Di tengah situasi yang demikian, datang seseorang kepada Kiai Nawawi. Ia bermaksud meminta pertolongan Kiai Nawawi tuk mengatasi kesulitan tersebut.

Dengan segala pertimbangan, Kiai Nawawi menyanggupi permintaan tersebut. Kiai yang senantiasa mengamalkan Dalailul Khairat tersebut, menunaikan sholat sunnah sebelum beranjak ke lokasi kejadian. Setelah itu, ia berangkat bersama utusan tersebut. Sesampainya di Watudodol, Kiai Nawawi memanjatkan doa. Seketika itu, kapal yang kandas yang tak kunjung bisa ditarik, dengan mudahnya kembali ke tengah laut dan kembali berlayar.

Dari kejadian itu, nama Kiai Nawawi dikenal sebagai kiai kampung pilih tanding. Kiprahnya dan keilmuwannya ditunggu oleh banyak orang. Mereka semua ingin merasakan kemanfaatan dan keberkahan dari luberan ilmunya.

Dengan segala perjuangannya tersebut, Kiai Nawawi meninggalkan keteladan dan keberkahan yang bisa dirasakan hingga saat ini. Kiai kampung itu pun dipanggil kembali keharibaan Sang Khaliq. Tepat pada Rabu, 14 Safar 1408/ 7 Oktober 1987, kala usianya menginjak 75 tahun, ia wafat meninggalkan dua orang istri dan empat orang anak. (*)

Penulis : Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU

Pewarta
: Syamsul Arifin
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rochmat Shobirin