Opini
Jejak Kiai Banyuwangi
Kiai Irsyad Achyat, Sang Penggerak ‘Muharrik’ Blambangan
08-12-2017 - 19:15 | Views: 4.71k
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Nama KH Syahid Irsyad Achyat, memang layak disebut sebagai seorang muharrik atau penggerak. Terlebih bila dikaitkan dengan keberadaan Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Blambangan, sebagai pemekaran dari NU Cabang Banyuwangi. Ia tak hanya tercatat sebagai ketua pertama, tapi juga sebagai penggerak utama NU di wilayah Banyuwangi selatan. 

Kiai Achyat, begitu ia biasa disapa, sebenarnya bukanlah orang Banyuwangi. Nalurinya sebagai seorang santri dan ketundukkannya pada seorang guru yang kemudian mengantarkannya ke ujung timur pulau Jawa. Ia lahir di Kediri pada 31 Desember 1909.

Keluarganya bukanlah berasal dari kalangan ulama ataupun bangsawan. Hanya seorang petani biasa yang taraf ekonominya tak terlalu baik. 

Saat masih balita, Achyat telah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya. Kemudian dia harus tinggal bersama nenek. Di bawah bimbingan sang nenek inilah, Achyat tumbuh dan mendapatkan pendidikan ala santri. Berbagai bekal dasar keagamaan ia pelajari semasa kanak-kanak di kampung halamannya. 

Beranjak remaja, karena desakan ekonomi, Achyat memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Selain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, ia berkeinginan kuat untuk menghidupi neneknya di kampung. Di Surabaya tersebut, ia bekerja serabutan. Pekerjaan apapun yang sekiranya menghasilkan, ia lakukan. 

Achyat yang kerap berpindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain itu, membuatnya memiliki pergaulan yang cukup luas di salah satu kota metropolitan kala itu. Sampai suatu hari ia mendengar suatu percakapan rahasia para telik sandi pemerintah kolonial Belanda di Surabaya. Percakapan tersebut, merencanakan penangkapan Hadratusysyekh KH. Hasyim Asyari.

Mendengar informasi tersebut, jiwa kesantrian Achyat muda tersulut. Ia tak ingin seorang ulama yang menjadi panutan umat di seluruh pelosok nusantara itu ditangkap oleh penjajah. Meski Achyat tak pernah belajar langsung ke pendiri NU itu, tapi ketakdiman seorang santri kepada ulama lah yang mendorongnya untuk segera berbuat sesuatu. 

Achyat pun segera bertolak ke Tebuireng, Jombang, di pesantrennya Kiai Hasyim Asyari. Sesampainya di sana, ia menyampaikan informasi penting yang didengarnya di Surabaya. Kiai Hasyim menerima pesan tersebut dan berterima kasih atas kesediaan Achyat untuk mengabarkan. Sebagai ungkapan terima kasih, Achyat diminta untuk tinggal di pesantren. 

Sejak itulah Achyat tercatat sebagai santri di Tebuireng. Selain belajar langsung kepada hadratusysyekh, Achyat juga mendapat tugas khusus untuk mengawal putra pertama gurunya itu, yakni Wahid Hasyim yang kelak menjadi tokoh besar Republik Indonesia.

Di Tebuireng, Achyat tumbuh menjadi santri yang cerdas dan memiliki jiwa kepemimpinan. Bahkan, Kiai Hasyim mempercayainya untuk menjadi lurah pondok. Yaitu suatu jabatan tertinggi di kalangan santri untuk menjadi kepala pengurus. Tak sembarang santri yang dipilih menjadi lurah, hanya yang memiliki kridebilitas dan integritas yang baik di depan kiai ataupun sesama santri.

Setelah ditempa dengan berbagai pengalaman selama di pesantren, Achyat mendapatkan tugas khusus dari Kiai Hasyim Asyari. Sekitar 1937, bersama beberapa santri yang lain, Achyat diutus untuk ke Banyuwangi guna membantu menggerakkan NU. Ia dibekali secarik kertas yang bertuliskan alamat salah seorang alumni Tebuireng.

Achyat pun mulai merantau ke Banyuwangi. Berbekal alamat tersebut, mengantarkan Achyat ke Pesantren Darul Falah di Kepundungan, Srono. Pesantren tersebut didirikan oleh ulama muda kharismatik, Kiai Dimyati Syafi'i. Dari pesantren inilah, kiprah Achyat sebagai sosok muharrik di mulai. 

Kepribadian dan kecerdasan Achyat saat itu, segera menarik perhatian Kiai Dimyati. Lebih-lebih statusnya sebagai utusan ulama besar tanah Jawa. Lambat laun Kiai Dim menaruh kepercayaan besar kepada Achyat. 

Karena mengemban amanah untuk mengembangkan NU di Banyuwangi oleh gurunya, Achyat pun mulai melakukan misinya. Langkah yang pertama tentu meng-NU-kan Kiai Dimyati terlebih dahulu. Ia lantas menginisiasi berdirinya Ranting NU di Desa Kepundungan. Kiai Dimyati menjadi Rois Syuriahnya. 

Setelah sukses meng-NU-kan Kiai Dimyati, Achyat pun mulai menggerakkan bidang lainnya. Menurutnya, untuk memperkuat NU haruslah memperkuat sistem kaderisasinya. Sedangkan kaderisasi yang paling tepat adalah dengan memperkuat pendidikan di pesantren. Atas gagasan inilah, Pesantren Darul Falah mulai menggagas madrasah. 

Madrasah yang dirintis pada 1939 itu, atas usul Achyat diberi nama Madrasah Nahdlatut Thullab, kebangkitan para pelajar. Nama itu, menurut Achyat, tafaulan - mengalap berkah - dari nama Nahdlatul Ulama. Harapannya, kelak para lulusan madrasah tersebut, mampu menjadi orang-orang yang senantiasa berkhidmat kepada agama Islam dan bangsa Indonesia sebagaimana tujuan utama dari didirikannya NU.

Gagasan Achyat tersebut, disambut positif oleh Kiai Dimyati. Bahkan, dikemudian hari, nama Pesantren Darul Falah diganti menjadi Pesantren Nahdlatut Thullab, hingga saat ini. 

Kiprah muharrik dari sosok Achyat yang mulai dikiaikan oleh masyarakat Banyuwangi itu, semakin menguat di tengah era kependudukan Jepang. NU dan berbagai organisasi keislaman lainnya yang sempat divakumkan, kembali dihidupkan oleh Jepang. NU Banyuwangi yang sempat vakum pun kembali bergeliat.

Geliat aktivitas NU itu, ditandai dengan dilakukannya pemekaran cabang. Banyuwangi yang terdiri dari tiga kawedanan merupakan wilayah kerja yang cukup berat bagi kegiatan keorganisasian yang nirlaba sebagaimana NU. Apalagi saat itu, akses transportasi masih sangat terbatas. Dengan kondisi demikian, akhirnya diputuskan pembagian wilayah. Banyuwangi sisi utara (plus Kecamatan Kalibaru dan Glenmore) ikut NU Cabang Banyuwangi. Sedangkan wilayah Srono ke selatan, ikut NU Cabang Blambangan. 

Kepengurusan NU Cabang Blambangan tersebut, menunjuk Kiai Dimyati sebagai Rois Syuriah dan Kiai Achyat sebagai ketua tabfidiyahnya. Mereka resmi dilantik pada 25 Syawal 1363 H atau bertepatan dengan 12 Oktober 1944.

Semenjak itu, intensitas Kiai Achyat bersama gurunya, Kiai Dimyati, untuk menggerakkan NU Blambangan semakin tinggi. Hampir setiap hari, ia berkeliling mengurus NU. Dengan hanya mengendarai sepeda kayuh, Achyat tak jarang harus menempuh perjalanan puluhan kilometer demi mengurus NU. 

Selain menggerakkan NU, sebagai seorang muharrik Kiai Achyat juga menggerakkan bidang sosial lainnya. Di bidang pendidikan, misalnya, selain Madrasah Nahdlatut Thullab, ia juga merintis beberapa sekolah lain di Srono. Masjid Jami' Srono yang saat ini berdiri megah tak jauh dari pasar itu, juga tak lepas dari tangan dingin Kiai Achyat dalam menggerakkan masyarakat kala itu. 

Di bidang politik, gerakkan Kiai Achyat juga cukup moncer. Ia berhasil menjadi anggota DRPD Banyuwangi dan kemudian meningkat hingga menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Tak hanya ditingkat lokal dan regional, ia juga aktif terlibat dalam event-event politik skala nasional. Konon, ia juga pernah menjabat anggota Konstituante sebagai anggota pergantian antar waktu. Dalam beberapa dokumen, Kiai Achyat juga tercatat bersama para ulama besar di Indonesia terlibat dalam forum muktamar alim ulama.

Sepanjangnya hidupnya, Kiai Achyat memanf benar-benar menjadi seorang muharrik, seorang penggerak, yang ternyata tak hanya di bumi Blambangan, tapi juga di panggung nasional. (*)

 

Penulis : Ayung Notonegoro, penggiat di Komunitas Pegon yang bergerak dalam meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah dan hal ihwal tentang pesantren dan NU

Editor
: Yatimul Ainun
Publisher
: Rizal Dani